Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga terlimpahkan atas muhammad Rosulullah yang selalu setia terhadap ajaran dan sunnah-sunnahnya.
Selayaknya kalau kita bermukhasabah, introspeksi diri, selalu melihat kedalam pribadi kita sebelum memberi penilaian terhadap suatu masalah. Berkaca terhadap diri sendiri adalah hal bijaksana untuk kita lakukan, sebelum kita mempresisikan pada orang lain. "Karena barang siapa yang mengenal Robbnya tentu ia akan sibuk berkhidmat kepadaNya dengan meninggalkan hawa nafsunya". Hendaknya kita tidak luruh dan tersibghah dengan kondisi zaman, dan selayaknya kita tetap konsisten dengan akidah dan ke imanan yang kita miliki, konsisten terhadap keyakinan Bahwa Alloh dan Rosululloh SAW tempat segala sesuatu persoalan kita kembalikan.
Mari kita introspeksi diri dan menoleh kebelakang lagi Sudah benarkah SYAHADAT kita, sesuaikah KEIMANAN kita dengan AL QUR'AN dan AS SUNNAH (AL HADITS), Benarkah MANHAJ dan HUKUM yang kita terapkan dalam kehidupan kita, Rosululloh SAW bersabda :"Iman dan amal adalah dua saudara yang saling menemani didalam persahabatan, Alloh tidak menerima salah satu di keduanya kecuali dengan sahabatnya". (HR. Ibnu Syahiin Fissunah An Ali). "Iman itu adalah kepercayaan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan Anggota". (HR. Ibnu Majah).
"Bukankah iman itu sekedar cita-cita (angan-angan) saja, akan tetapi iman itu suatu kepercayaan yang tetap dalam hati, dan dibuktikan dengan amal perbuatan". (HR. Dailami).
Semoga Agenda ini bisa menjadikan bahan renungan untuk berinstropeksi diri tentang keimanan, tentang manhaj, ataupun sikap yang seyogyanya kita lakukan. Amin
Alhamdulilah Jaza Kumullohu Khoiron
www.generus313.blogspot.com
Minggu, 16 Oktober 2011
Jumat, 14 Oktober 2011
Buku Fatwa MUI 'Oase' bagi Pemahaman Fatwat
JAKARTA - Dewan Pimpinan
Majelis Ulama Indonesia (DPP
MUI) mengharapkan
kehadiran buku 'Kumpulan
Fatwa MUI Sejak Tahun 1975'
bisa menjadi pedoman bagi masyarakat dan pemerintah
dalam menghadapi
kompleksnya persoalan-
persoalan keagamaan,
kehidupan sosial dan
berbangsa dan bernegara. "Buku kumpulan fatwa MUI
ini diharapkan mampu
menjadi oase di tengah
padang pasir yang sangat
ditunggu pemerintah maupun
masyarakat sebagai pedoman kemaslahatan," ungkap Ketua
Umum DPP MUI, Dr KH MA
Sahal Mahfudz. Sejak berdiri tahun 1975,
lanjutnya, MUI telah
menetapkan ratusan fatwa.
Baik yang terkait dengan
masalah ibadah, sosial
ke masyarakatan, ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) hingga terkait pangan
atau obat obatan yang halal. Namun harus diakui, tidak
semua fatwa ini sampai ke
masyarakat luas. Masih ada
sebagian masyarakat yang
salah paham terhadap fatwa
MUI akibat ketidak tahuannya terhadap inti masalah yang
difatwakan. MUI --yang salah satu tugas
bimbingan keagamaannya
melalui fatwa-- tetap
istiqomah dalam
menyampaikan kebenaran
kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah. Ini
dengan semangat saling
mengingatkan terhadap
kebenaran (at-tawashi bil-
haq) sesuai jatidiri keulamaan. "Karena itu, buku kumpulan
fatwa ini akan mampu
menjembatani kepentingan
ulama, pemerintah dan
masyarakat. Sehingga,
kebenaran yang disampaikan melalui fatwa ini dapat
diterima dan tidak
menimbulkan kontroversi
atau masalah baru," jelas
Sahal. (Republika online)
www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=548:buku-fatwa-mui-oase-bagi-pemahaman-fatwa&catid=1:berita-singkat&Itemid=50
Majelis Ulama Indonesia (DPP
MUI) mengharapkan
kehadiran buku 'Kumpulan
Fatwa MUI Sejak Tahun 1975'
bisa menjadi pedoman bagi masyarakat dan pemerintah
dalam menghadapi
kompleksnya persoalan-
persoalan keagamaan,
kehidupan sosial dan
berbangsa dan bernegara. "Buku kumpulan fatwa MUI
ini diharapkan mampu
menjadi oase di tengah
padang pasir yang sangat
ditunggu pemerintah maupun
masyarakat sebagai pedoman kemaslahatan," ungkap Ketua
Umum DPP MUI, Dr KH MA
Sahal Mahfudz. Sejak berdiri tahun 1975,
lanjutnya, MUI telah
menetapkan ratusan fatwa.
Baik yang terkait dengan
masalah ibadah, sosial
ke masyarakatan, ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) hingga terkait pangan
atau obat obatan yang halal. Namun harus diakui, tidak
semua fatwa ini sampai ke
masyarakat luas. Masih ada
sebagian masyarakat yang
salah paham terhadap fatwa
MUI akibat ketidak tahuannya terhadap inti masalah yang
difatwakan. MUI --yang salah satu tugas
bimbingan keagamaannya
melalui fatwa-- tetap
istiqomah dalam
menyampaikan kebenaran
kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah. Ini
dengan semangat saling
mengingatkan terhadap
kebenaran (at-tawashi bil-
haq) sesuai jatidiri keulamaan. "Karena itu, buku kumpulan
fatwa ini akan mampu
menjembatani kepentingan
ulama, pemerintah dan
masyarakat. Sehingga,
kebenaran yang disampaikan melalui fatwa ini dapat
diterima dan tidak
menimbulkan kontroversi
atau masalah baru," jelas
Sahal. (Republika online)
www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=548:buku-fatwa-mui-oase-bagi-pemahaman-fatwa&catid=1:berita-singkat&Itemid=50
Rabu, 12 Oktober 2011
Senin, 10 Oktober 2011
MEMBINA GENERUS MELESTARIKAN AGAMA ALLOH
Jaman
sekarang
membina
generasi
muda
tidak dapat
dilakukan
dengan
cara-
cara
biasa, santai dan asal-asalan, harus dilakukan dengan sungguh- sungguh dan terprogram. Mengingat pengaruh lingkungan yang semakin kuat terhadap degradasi moral generasi muda, antara lain: Persaingan yang semakin ketat di berbagai bidang kehidupan menjadikan generasi muda lebih aktif mengejar status duniawi mengabaikan urusan agama Menyebarnya gaya hidup moderen yang bebas dan mengagungkan nilai materialime membuat orang tua lebih bangga anaknya sukses menjadi sarjana dari pada menjadi seorang mubaligh. Pengaruh buruk hiburan dan pornografi melalui berbagai media menjadikan generasi muda terlena dan melalaikan kewajiban ibadah dan mencari
ilmu agama. Pergaulan bebas di lingkungan dapat mengikis keimanan dan kefahaman agama generasi muda Kondisi masa depan bangsa ini tergambar dari pembinaan generasi muda saat ini. Kelalaian membina generasi muda akan berakibat semakin pudarnya nilai-nilai agama di masa depan. Untuk itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali menurunkan penasehatnya untuk memberikan nasehat pemantapan agama kepada seluruh pengurus dan jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia Sidoarjo, 21 Mei 2011. Tema nasehat pemantapan kali ini adalah masalah membina generasi penerus, yang terdiri dari remaja dan anak-anak jamaah. Kedatangan utusan dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia Pusat ini juga merupakan bentuk konseling / bimbingan, monitoring sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan program pembinaan generasi penerus di
daerah Sidoarjo. Seperti diketahui Penggerak Pembina Generasi Penerus (PPG) merupakan program unggulan yang mendapat prioritas utama dalam Lembaga Dakwah Islam Indonesia saat ini. Sebelumnya Lembaga Dakwah Islam Indonesia telah menetapkan 5 unsur sebagai pembina generasi muda yaitu:
1. Unsur orang tua
2. Unsur mubaligh dan mubalighot
3. Ahli pendidik
4. Pengurus dan
5. Unsur Ulama PPG dibentuk sebagai usaha lebih mengkonkritkan sistem pendidikan agama secara profesional di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. PPG bertugas merancang sistem belajar mengajar berupa, kurikulum, silabus, jurnal serta sistem evaluasi. Program-program pendidikan yang disusun oleh PPG akan menjadi pegangan bagi lima unsur untuk melakukan pembinaan dan pengajaran pada generasi muda terutama cabe rawit di setiap kelompok pengajian. Dengan adanya program belajar yang jelas diharapkan keberhasilan pembinaan generasi muda Lembaga Dakwah Islam Indonesia bisa lebih terarah dan terukur. Lembaga Dakwah Islam Indonesia menetapkan 3 target keberhasilan pembinaan genersi muda yaitu:
1. Menjadikan generasi muda yang alim (banyak ilmu agamanya)
2. Fakih beribadah dan berakhlakul karimah
3. Bisa hidup mandiri ﺎَﻳ ﺎَﻬُّﻳَﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َّﻥِﺇ ْﻦِﻣ ْﻢُﻜِﺟﺍَﻭْﺯَﺃ ْﻢُﻛِﺩﺎَﻟْﻭَﺃَﻭ ﺍًّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜَﻟ ْﻢُﻫﻭُﺭَﺬْﺣﺎَﻓ ْﻥِﺇَﻭ ﺍﻮُﻔْﻌَﺗ ﺍﻮُﺤَﻔْﺼَﺗَﻭ ﺍﻭُﺮِﻔْﻐَﺗَﻭ َّﻥِﺈَﻓ َﻪَّﻠﻟﺍ ٌﺭﻮُﻔَﻏ ٌﻢﻴِﺣَﺭ (14) ﺎَﻤَّﻧِﺇ ْﻢُﻜُﻟﺍَﻮْﻣَﺃ ْﻢُﻛُﺩﺎَﻟْﻭَﺃَﻭ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻩَﺪْﻨِﻋ ٌﺮْﺟَﺃ ٌﻢﻴِﻈَﻋ (15) Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak- anakmu bisa menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-
lah pahala yang besar. [Al-Quran surat At-
Taghobun ayat 14 -15] 242 - ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻦْﺑ ﻰَﻴْﺤَﻳ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻦْﺑ ِﺐْﻫَﻭ ِﻦْﺑ َﺔَّﻴِﻄَﻋ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪﻴِﻟَﻮْﻟﺍ ُﻦْﺑ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﻕﻭُﺯْﺮَﻣ ُﻦْﺑ ﻲِﺑَﺃ ِﻞْﻳَﺬُﻬْﻟﺍ َﻝﺎَﻗ : ﻲِﻨَﺛَّﺪَﺣ ُّﻱِﺮْﻫُّﺰﻟﺍ َﻝﺎَﻗ : ﻲِﻨَﺛَّﺪَﺣ ﻮُﺑَﺃ ِﺪْﺒَﻋ ُّﺮَﻏَﺄْﻟﺍ ِﻪَّﻠﻟﺍ ، ْﻦَﻋ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ، َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ : » َّﻥِﺇ ﺎَّﻤِﻣ ُﻖَﺤْﻠَﻳ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﻪِﻠَﻤَﻋ ِﻪِﺗﺎَﻨَﺴَﺣَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﻪِﺗْﻮَﻣ ﺎًﻤْﻠِﻋ ُﻪَﻤَّﻠَﻋ ُﻩَﺮَﺸَﻧَﻭ ، ﺍًﺪَﻟَﻭَﻭ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻪَﻛَﺮَﺗ ، ﺎًﻔَﺤْﺼُﻣَﻭ ُﻪَﺛَّﺭَﻭ ، ْﻭَﺃ ُﻩﺎَﻨَﺑ ﺍًﺪِﺠْﺴَﻣ ، ْﻭَﺃ ﺎًﺘْﻴَﺑ ِﻦْﺑﺎِﻟ ِﻞﻴِﺒَّﺴﻟﺍ ُﻩﺎَﻨَﺑ ، ْﻭَﺃ ﺍًﺮْﻬَﻧ ُﻩﺍَﺮْﺟَﺃ ، ْﻭَﺃ ًﺔَﻗَﺪَﺻ ﺎَﻬَﺟَﺮْﺧَﺃ ْﻦِﻣ ِﻪِﻟﺎَﻣ ﻲِﻓ ِﻪِﺘَّﺤِﺻ ِﻪِﺗﺎَﻴَﺣَﻭ ، ُﻪُﻘَﺤْﻠَﻳ ْﻦِﻣ ِﻪِﺗْﻮَﻣ ِﺪْﻌَﺑ « ﺏﺎﺘﻜﻟﺍ ﺡﺎﺘﺘﻓﺍ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ
ﻞﺋﺎﻀﻓﻭ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ﻲﻓ
ﻢﻠﻌﻟﺍﻭ ﺔﺑﺎﺤﺼﻟﺍ ...Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya
apa-apa yang menyusul orang iman dari amalan dan kebagusan setelah ia meninggal, (adalah) ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak sholeh yang ia tinggalkan dan catatan (ilmu agama) yang
ia wariskan, atau masjid yang ia bangun atau bangunan untuk ibnu sabil (musafir), atau sungai yang ia alirkan, shodakoh yang ia keluarkan dari hartanya dalam keadaan sehat dan hidupnya (semua itu) menyusul pada orang iman setelah matinya. [Hadist Ibnu Majah No. 242
Kitab Pembukaan tentang
Iman dan keutamaan
shahabat nabi muhammad
saw dan Ilmu]
sekarang
membina
generasi
muda
tidak dapat
dilakukan
dengan
cara-
cara
biasa, santai dan asal-asalan, harus dilakukan dengan sungguh- sungguh dan terprogram. Mengingat pengaruh lingkungan yang semakin kuat terhadap degradasi moral generasi muda, antara lain: Persaingan yang semakin ketat di berbagai bidang kehidupan menjadikan generasi muda lebih aktif mengejar status duniawi mengabaikan urusan agama Menyebarnya gaya hidup moderen yang bebas dan mengagungkan nilai materialime membuat orang tua lebih bangga anaknya sukses menjadi sarjana dari pada menjadi seorang mubaligh. Pengaruh buruk hiburan dan pornografi melalui berbagai media menjadikan generasi muda terlena dan melalaikan kewajiban ibadah dan mencari
ilmu agama. Pergaulan bebas di lingkungan dapat mengikis keimanan dan kefahaman agama generasi muda Kondisi masa depan bangsa ini tergambar dari pembinaan generasi muda saat ini. Kelalaian membina generasi muda akan berakibat semakin pudarnya nilai-nilai agama di masa depan. Untuk itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali menurunkan penasehatnya untuk memberikan nasehat pemantapan agama kepada seluruh pengurus dan jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia Sidoarjo, 21 Mei 2011. Tema nasehat pemantapan kali ini adalah masalah membina generasi penerus, yang terdiri dari remaja dan anak-anak jamaah. Kedatangan utusan dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia Pusat ini juga merupakan bentuk konseling / bimbingan, monitoring sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan program pembinaan generasi penerus di
daerah Sidoarjo. Seperti diketahui Penggerak Pembina Generasi Penerus (PPG) merupakan program unggulan yang mendapat prioritas utama dalam Lembaga Dakwah Islam Indonesia saat ini. Sebelumnya Lembaga Dakwah Islam Indonesia telah menetapkan 5 unsur sebagai pembina generasi muda yaitu:
1. Unsur orang tua
2. Unsur mubaligh dan mubalighot
3. Ahli pendidik
4. Pengurus dan
5. Unsur Ulama PPG dibentuk sebagai usaha lebih mengkonkritkan sistem pendidikan agama secara profesional di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. PPG bertugas merancang sistem belajar mengajar berupa, kurikulum, silabus, jurnal serta sistem evaluasi. Program-program pendidikan yang disusun oleh PPG akan menjadi pegangan bagi lima unsur untuk melakukan pembinaan dan pengajaran pada generasi muda terutama cabe rawit di setiap kelompok pengajian. Dengan adanya program belajar yang jelas diharapkan keberhasilan pembinaan generasi muda Lembaga Dakwah Islam Indonesia bisa lebih terarah dan terukur. Lembaga Dakwah Islam Indonesia menetapkan 3 target keberhasilan pembinaan genersi muda yaitu:
1. Menjadikan generasi muda yang alim (banyak ilmu agamanya)
2. Fakih beribadah dan berakhlakul karimah
3. Bisa hidup mandiri ﺎَﻳ ﺎَﻬُّﻳَﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َّﻥِﺇ ْﻦِﻣ ْﻢُﻜِﺟﺍَﻭْﺯَﺃ ْﻢُﻛِﺩﺎَﻟْﻭَﺃَﻭ ﺍًّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜَﻟ ْﻢُﻫﻭُﺭَﺬْﺣﺎَﻓ ْﻥِﺇَﻭ ﺍﻮُﻔْﻌَﺗ ﺍﻮُﺤَﻔْﺼَﺗَﻭ ﺍﻭُﺮِﻔْﻐَﺗَﻭ َّﻥِﺈَﻓ َﻪَّﻠﻟﺍ ٌﺭﻮُﻔَﻏ ٌﻢﻴِﺣَﺭ (14) ﺎَﻤَّﻧِﺇ ْﻢُﻜُﻟﺍَﻮْﻣَﺃ ْﻢُﻛُﺩﺎَﻟْﻭَﺃَﻭ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻩَﺪْﻨِﻋ ٌﺮْﺟَﺃ ٌﻢﻴِﻈَﻋ (15) Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak- anakmu bisa menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-
lah pahala yang besar. [Al-Quran surat At-
Taghobun ayat 14 -15] 242 - ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻦْﺑ ﻰَﻴْﺤَﻳ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻦْﺑ ِﺐْﻫَﻭ ِﻦْﺑ َﺔَّﻴِﻄَﻋ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪﻴِﻟَﻮْﻟﺍ ُﻦْﺑ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﻕﻭُﺯْﺮَﻣ ُﻦْﺑ ﻲِﺑَﺃ ِﻞْﻳَﺬُﻬْﻟﺍ َﻝﺎَﻗ : ﻲِﻨَﺛَّﺪَﺣ ُّﻱِﺮْﻫُّﺰﻟﺍ َﻝﺎَﻗ : ﻲِﻨَﺛَّﺪَﺣ ﻮُﺑَﺃ ِﺪْﺒَﻋ ُّﺮَﻏَﺄْﻟﺍ ِﻪَّﻠﻟﺍ ، ْﻦَﻋ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ، َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ : » َّﻥِﺇ ﺎَّﻤِﻣ ُﻖَﺤْﻠَﻳ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﻪِﻠَﻤَﻋ ِﻪِﺗﺎَﻨَﺴَﺣَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﻪِﺗْﻮَﻣ ﺎًﻤْﻠِﻋ ُﻪَﻤَّﻠَﻋ ُﻩَﺮَﺸَﻧَﻭ ، ﺍًﺪَﻟَﻭَﻭ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻪَﻛَﺮَﺗ ، ﺎًﻔَﺤْﺼُﻣَﻭ ُﻪَﺛَّﺭَﻭ ، ْﻭَﺃ ُﻩﺎَﻨَﺑ ﺍًﺪِﺠْﺴَﻣ ، ْﻭَﺃ ﺎًﺘْﻴَﺑ ِﻦْﺑﺎِﻟ ِﻞﻴِﺒَّﺴﻟﺍ ُﻩﺎَﻨَﺑ ، ْﻭَﺃ ﺍًﺮْﻬَﻧ ُﻩﺍَﺮْﺟَﺃ ، ْﻭَﺃ ًﺔَﻗَﺪَﺻ ﺎَﻬَﺟَﺮْﺧَﺃ ْﻦِﻣ ِﻪِﻟﺎَﻣ ﻲِﻓ ِﻪِﺘَّﺤِﺻ ِﻪِﺗﺎَﻴَﺣَﻭ ، ُﻪُﻘَﺤْﻠَﻳ ْﻦِﻣ ِﻪِﺗْﻮَﻣ ِﺪْﻌَﺑ « ﺏﺎﺘﻜﻟﺍ ﺡﺎﺘﺘﻓﺍ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ
ﻞﺋﺎﻀﻓﻭ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ﻲﻓ
ﻢﻠﻌﻟﺍﻭ ﺔﺑﺎﺤﺼﻟﺍ ...Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya
apa-apa yang menyusul orang iman dari amalan dan kebagusan setelah ia meninggal, (adalah) ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak sholeh yang ia tinggalkan dan catatan (ilmu agama) yang
ia wariskan, atau masjid yang ia bangun atau bangunan untuk ibnu sabil (musafir), atau sungai yang ia alirkan, shodakoh yang ia keluarkan dari hartanya dalam keadaan sehat dan hidupnya (semua itu) menyusul pada orang iman setelah matinya. [Hadist Ibnu Majah No. 242
Kitab Pembukaan tentang
Iman dan keutamaan
shahabat nabi muhammad
saw dan Ilmu]
Hidup dan bergaul dimasyarakat tidak boleh apatis terhadap permasalahan orang lain, perhatikan gambaran dibawah ini.
"Seekor tikus mendatangi ular, dia sedang panik dan minta pendapat ular karena pemilik rumah akan memasang jebakan untuk tikus. Sang ular dengan kalem bilang: "Itu bukan urusan saya". Karena tidak dapat tanggapan sang tikus mengadu kepada ayam-kambing dan terakhir sapa yang paling besar dirumah itu, karena mereka semua hewan kesayangan pemilik rumah. Tapi semua sikapnya sama dengan kalem mereka berkomentar "Itu bukan urusan saya". Dan sang tibus pun sedih dalam kesendirian karena tidak satu pun yang peduli. Beberapa hari kemudian, sang istri pemilik rumah menemukan jebakan yang dipasang suaminya berhasil, tapi yang terlengkap dan terjepit adalah seekor ular. Walau sangat kesakitan, ular pura-pura mati, dan ketika istri pemilik rumah membuka jebakan, ular langsung menggigit sekuatnya. Sang ibu teriak ketakutan dan kesakitan. Sang suami marah sekali, lalu membunuh ular sampai hancur terpotong-potong. Ternyata itu ular berbisa, sang ibu kakinya bengkak. Kata tetangga "Obati dengan rebusan ceker ayam". Sang ayam jago kesayangan pun dipotong, cekernya direbus untuk obat. Karena belum sembuh, orang lain bilang "Obati dengan empedu kambing". Sang kambing kesayangan pun terpaksa dipotong, lalu diambil empedunya. Rupanya ular itu berbisa sekali, si ibu pun meninggal. Sang suami sedih sekali, orang satu kampung berduyun-duyun melayat sampai beberapa hari. Untuk menghormati tamu, maka sapi kebanggaan keluarga akhirnya dipotong untuk menjamu tamu-tamu. Sang tikus sekarang sudah tenang karena jebakan tikusnya sudah dibuang dan yang jadi korbannya adalah ular, ayam, kambing, dan sapi yang tadinya melecehkan jebakan untuk dirinya. Kesimpulan: Jangan tidak peduli, acuh tak acuh terhadap masalah orang lain. Karena bisa saja, akibatnya justru akan menimpa kita.
ORG 46.13 september 2011
www.facebook.com/note.php?note_id=10150290805826916&refid=21
ORG 46.13 september 2011
www.facebook.com/note.php?note_id=10150290805826916&refid=21
Sabtu, 09 Juli 2011
Mufti Mekah Kunjungi Pondok Pesantren Wali Barokah
Syech Dr Abdullah Nasri Yahya Al Asiri,
dosen sekaligus Mufti di Ma’had Haram Mekah, (7/04/2011)
lalu mengunjungi Pondok Pesantren Wali Barokah di Kediri.
Kunjungan di pondok pesntren itu, untuk mempererat silaturahim,
antara Syech Dr Abdullah Nasri dan murid-muridnya yang berasal dari Pesantren Wali Barokah Burengan Kediri.
Ini penghormatan besar bagi Pondok Pesantren Walibarokah dan LDII.
Tak biasanya guru mengunjungi murid-muridnya sekaligus memberi tausiyah kepada para santri yang dididik para muridnya itu.
Syech Abdullah Nasri juga mengunjungi beberapa tempat lainnya,
semisal kantor DPW LDII di Surabaya,
Jawa Timur dan kantor DPP LDII di Senayan, Jakarta.
Pada Jumat Subuh (08/04/2011), dalam kuliah umumnya di hadapan ribuan santri, Syech Abdullah Nasri menekankan pentingnya mencari ilmu dan beramal.
Dunia memang sedang bermasalah dengan moralitas.
Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi dibangga- banggakan, sementara ilmu agama ditinggalkan, umat manusia mengalami kemerosotan moral sekaligus peradaban.
Agar selamat dunia dan akhirat, umat Islam supaya terus mencari ilmu agama dan mengamalkannya.
Namun, mencari ilmu agama tak semudah mencai ilmu duniawi.
Perlu kesabaran dan ketekunan.
Untuk itu Syech Abdullah Nasri berpesan, hal yang pertama dilakukan dalam mencari ilmu adalah ikhlas, semata-mata karena Allah, mengharap pahala dari Allah.
“Mencari ilmu tidak untuk pamer, untuk sombong, atau beradu kepintaran, hanya semata- mata mencari ridho dan pahala
dari Allah,” ujar Syech Abdullah Nasri.
Kedua, ilmu itu harus diamalkan, karena ilmu tanpa diamalkan akan menjadi hujjah bagi Alloh untuk menyiksa pencari ilmu tersebut.
Selanjutnya sabar, sebab mencari ilmu agama itu butuh proses yang menuntut kesabaran.
Rasa jenuh atau kesulitan-kesulitan lain harus dihadapi dengan kesabaran.
Yang keempat, taqwallah.
Bertaqwa kepada Allah berdasarkan dalil wattaqulloh wa yu’allimukumulloh, “Bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajari kamu sekalian,” ujar Syech Abdullah Nasri.
Menurutnya dengan bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi ilmu kepada kalian semua.
Syech Dr. Abdullah Nasri Yahya Al Asiri, menamatkan S1 dan S2 di Universitas Umul Quro di Mekah.
Lalu S3 diselesaikan di Universitas Islam Madinah.
Kecintaannya terhadap Islam membuatnya mengambil jurusan Ushul Fiqih, mulai dari tingkat sarjana hingga doktoral.
Syech Abdullah Nasri menjadi guru di Ma’had Haram sekaligus sebagai mufti di Ma’had Haram di Mekah.
Syech Abdullah Nasri satu institusi dengan Syech Abdurrahman Sudais, salah satu imam dan mufti di Masjidil Haram –yang kebetulan memiliki hubungan saudara dengan istri Syech Abdullah Nasri.
Bahkan bila Syech Abdurrahman Sudais tidak bisa menghadiri berbagai undangan dakwah ke luar negeri,
Syech Abdullah Nasri yang ditunjuk menggantikannya.
Kedatangan Syech Abdullah Nasri ke Indonesia dalam rangka liburan yang dimanfaatkan untuk berdakwah, dan mengunjungi murid-murid yang dulu pernah belajar kepadanya di Ma’had Haram.
“Maka kami manfaatkan sekalian untuk tausiah dan mengajar ilmu- ilmu yang terkait dengan ushul fiqih,” ujar Chriswanto Santoso,
Ketua DPW LDII Jawa Timur sekaligus Ketua DPP LDII. (gB-LC)
Artikel Ini Dicari Dengan
Keyword:
■mufti mekah
■LDII kunjungan mufthi mekah
■syaikh abdulloh nasri burengan
■Syeikh DR Abdulloh Nasri Yahya Al Asyiri
■Syekh Abdullah Nasri
■tanggapan syek mekah di ldii kediri
■fhoto syaih abdulloh nasri
■ldii org
■Abdullah Nasri Yahya Al Asyiri
■mahad wali barokah
■Syaikh Abdullah Nasri
■dr Abdullah nasri yahya
■mufti mekah ke kediri you tobe
■guru pesantren wali barokah
■syaikh mengunjungi ldii
■syaikh kunjungi tempat ldii islam jamaah
■pusat ldii
■syaikh Abdullah nasri ke pondok ldii kediri-youtube
■ponpe wali barokah
ponpes di makkah
santri kediri yg ada di makkah
syaikh Abdullah nasri ke pondok ldii kediri
profil Syekh Abdullah Nasri
syaikh nasri
youtube syech abdullah nasri
youtube abdullah nasri
www syeikh mekah
Www pondokldiikediri com
universitas Wali Barokah
tausiyah tentang pentingnya ilmu dunia dan akhirat
syekh yahya pondok ldii kediri
syekh abdulloh assiri ulama mekkah
syekh abdullah assiri
syeh yahya kediri
syeh abdualla anasiri mengunjungi pondok ldii
Syech Dr Abdullah Nasri Yahya Al Asiri ke Indonesia
syech abdullah asyiri
pondok pesantren mekkah
Pondok pesantren makah
LDII MEKAH
Abdullah Nasri Yahya Al Asiri youtube
ldii di mekah
LDII di masjidil haram
ldii dan ummul qura makkah
kunjungan syaikh ldii
kunjungan mufti mekkah ke ldii
kunjungan mufti makah POMPES WALIBAROKAH
imam mufti mekah di indonesia
ilmu memang harus diamalkan
dr abdullah asiri di ponpes wali barokah
abdulloh nasri
ldii mekkah
ldii mufti 0 LOGO PONDOK WALIBAROKAH
pondok ldii kediri youtube
podok di mekah
nuansapersada ldii juni 2011 kunjungan ulama mekah
muftimekah
mufti mekkah
mufti mekah ke indonesia
mufti mekah burengan youtube
mufti ldii
mufti kunjungi
mengapa islam mengalami kemerosotan ilmu
pengetahuan
mempererat hubungan silaturahmi antara mahad
mahad masjidil haram
Abdullah Nasri Yahya pondok ldii kediri
Di petik Dari :
www.walibarokah.org/mufti-mekah-kunjungi-pondok-pesantren-walibarokah/
dosen sekaligus Mufti di Ma’had Haram Mekah, (7/04/2011)
lalu mengunjungi Pondok Pesantren Wali Barokah di Kediri.
Kunjungan di pondok pesntren itu, untuk mempererat silaturahim,
antara Syech Dr Abdullah Nasri dan murid-muridnya yang berasal dari Pesantren Wali Barokah Burengan Kediri.
Ini penghormatan besar bagi Pondok Pesantren Walibarokah dan LDII.
Tak biasanya guru mengunjungi murid-muridnya sekaligus memberi tausiyah kepada para santri yang dididik para muridnya itu.
Syech Abdullah Nasri juga mengunjungi beberapa tempat lainnya,
semisal kantor DPW LDII di Surabaya,
Jawa Timur dan kantor DPP LDII di Senayan, Jakarta.
Pada Jumat Subuh (08/04/2011), dalam kuliah umumnya di hadapan ribuan santri, Syech Abdullah Nasri menekankan pentingnya mencari ilmu dan beramal.
Dunia memang sedang bermasalah dengan moralitas.
Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi dibangga- banggakan, sementara ilmu agama ditinggalkan, umat manusia mengalami kemerosotan moral sekaligus peradaban.
Agar selamat dunia dan akhirat, umat Islam supaya terus mencari ilmu agama dan mengamalkannya.
Namun, mencari ilmu agama tak semudah mencai ilmu duniawi.
Perlu kesabaran dan ketekunan.
Untuk itu Syech Abdullah Nasri berpesan, hal yang pertama dilakukan dalam mencari ilmu adalah ikhlas, semata-mata karena Allah, mengharap pahala dari Allah.
“Mencari ilmu tidak untuk pamer, untuk sombong, atau beradu kepintaran, hanya semata- mata mencari ridho dan pahala
dari Allah,” ujar Syech Abdullah Nasri.
Kedua, ilmu itu harus diamalkan, karena ilmu tanpa diamalkan akan menjadi hujjah bagi Alloh untuk menyiksa pencari ilmu tersebut.
Selanjutnya sabar, sebab mencari ilmu agama itu butuh proses yang menuntut kesabaran.
Rasa jenuh atau kesulitan-kesulitan lain harus dihadapi dengan kesabaran.
Yang keempat, taqwallah.
Bertaqwa kepada Allah berdasarkan dalil wattaqulloh wa yu’allimukumulloh, “Bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajari kamu sekalian,” ujar Syech Abdullah Nasri.
Menurutnya dengan bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi ilmu kepada kalian semua.
Syech Dr. Abdullah Nasri Yahya Al Asiri, menamatkan S1 dan S2 di Universitas Umul Quro di Mekah.
Lalu S3 diselesaikan di Universitas Islam Madinah.
Kecintaannya terhadap Islam membuatnya mengambil jurusan Ushul Fiqih, mulai dari tingkat sarjana hingga doktoral.
Syech Abdullah Nasri menjadi guru di Ma’had Haram sekaligus sebagai mufti di Ma’had Haram di Mekah.
Syech Abdullah Nasri satu institusi dengan Syech Abdurrahman Sudais, salah satu imam dan mufti di Masjidil Haram –yang kebetulan memiliki hubungan saudara dengan istri Syech Abdullah Nasri.
Bahkan bila Syech Abdurrahman Sudais tidak bisa menghadiri berbagai undangan dakwah ke luar negeri,
Syech Abdullah Nasri yang ditunjuk menggantikannya.
Kedatangan Syech Abdullah Nasri ke Indonesia dalam rangka liburan yang dimanfaatkan untuk berdakwah, dan mengunjungi murid-murid yang dulu pernah belajar kepadanya di Ma’had Haram.
“Maka kami manfaatkan sekalian untuk tausiah dan mengajar ilmu- ilmu yang terkait dengan ushul fiqih,” ujar Chriswanto Santoso,
Ketua DPW LDII Jawa Timur sekaligus Ketua DPP LDII. (gB-LC)
Artikel Ini Dicari Dengan
Keyword:
■mufti mekah
■LDII kunjungan mufthi mekah
■syaikh abdulloh nasri burengan
■Syeikh DR Abdulloh Nasri Yahya Al Asyiri
■Syekh Abdullah Nasri
■tanggapan syek mekah di ldii kediri
■fhoto syaih abdulloh nasri
■ldii org
■Abdullah Nasri Yahya Al Asyiri
■mahad wali barokah
■Syaikh Abdullah Nasri
■dr Abdullah nasri yahya
■mufti mekah ke kediri you tobe
■guru pesantren wali barokah
■syaikh mengunjungi ldii
■syaikh kunjungi tempat ldii islam jamaah
■pusat ldii
■syaikh Abdullah nasri ke pondok ldii kediri-youtube
■ponpe wali barokah
ponpes di makkah
santri kediri yg ada di makkah
syaikh Abdullah nasri ke pondok ldii kediri
profil Syekh Abdullah Nasri
syaikh nasri
youtube syech abdullah nasri
youtube abdullah nasri
www syeikh mekah
Www pondokldiikediri com
universitas Wali Barokah
tausiyah tentang pentingnya ilmu dunia dan akhirat
syekh yahya pondok ldii kediri
syekh abdulloh assiri ulama mekkah
syekh abdullah assiri
syeh yahya kediri
syeh abdualla anasiri mengunjungi pondok ldii
Syech Dr Abdullah Nasri Yahya Al Asiri ke Indonesia
syech abdullah asyiri
pondok pesantren mekkah
Pondok pesantren makah
LDII MEKAH
Abdullah Nasri Yahya Al Asiri youtube
ldii di mekah
LDII di masjidil haram
ldii dan ummul qura makkah
kunjungan syaikh ldii
kunjungan mufti mekkah ke ldii
kunjungan mufti makah POMPES WALIBAROKAH
imam mufti mekah di indonesia
ilmu memang harus diamalkan
dr abdullah asiri di ponpes wali barokah
abdulloh nasri
ldii mekkah
ldii mufti 0 LOGO PONDOK WALIBAROKAH
pondok ldii kediri youtube
podok di mekah
nuansapersada ldii juni 2011 kunjungan ulama mekah
muftimekah
mufti mekkah
mufti mekah ke indonesia
mufti mekah burengan youtube
mufti ldii
mufti kunjungi
mengapa islam mengalami kemerosotan ilmu
pengetahuan
mempererat hubungan silaturahmi antara mahad
mahad masjidil haram
Abdullah Nasri Yahya pondok ldii kediri
Di petik Dari :
www.walibarokah.org/mufti-mekah-kunjungi-pondok-pesantren-walibarokah/
Sejarah "Hitam" Kaum Wahabi
Oleh: MN Harisudin Sejarah NU adalah sejarah
perlawanan terhadap kaum
Wahabi. Seperti dituturkan KH
Abd. Muchith Muzadi, sang
Begawan NU dalam kuliah
Nahdlatulogi di Ma' had Aly Situbondo dua bulan yang
silam, jam'iyyah Nahdlatul
Ulama didirikan atas dasar
perlawanan terhadap dua
kutub ekstrem pemahaman
agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang
diwakili kaum Wahabi di
Saudi Arabia dan ekstrem kiri
yang sekuler dan diwakili
oleh Kemal Attartuk di Turki,
saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul
Ulama di tahun 1926 M
sejatinya merupakan simbol
perlawanan terhadap dua
kutub ekstrem tersebut. Hanya saja, kali ini, karena
keterbatasan space, saya akan
membatasi tulisan ini pada
bahasan kutub ekstrem yang
pertama, Wahabi. Pun bahwa
saya akan membatasi pembahasan Wahabi secara
khusus pada sejarah
kelamnya di masa lampau,
belum pada doktrin-doktrin,
tokoh-tokohnya atau juga
yang lainnya. Saya berharap bahwa fakta sejarah ini akan
dapat kita gunakan untuk
memprediksi kehidupan sosial
keagamaan kita di masa-masa
yang akan datang. Karena
bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh kaum Wahabi
saat itu merupakan goresan
noda hitam. Goresan noda
hitam inilah yang kini
mengubah wajah Islam yang
sejatinya pro damai menjadi sangat keras dan mengubah
Islam yang semula ramah
menjadi penuh amarah. *** Sebagaimana dimaklumi,
kaum Wahabi adalah sebuah
sekte Islam yang kaku dan
keras serta menjadi pengikut
Muhammad Ibn Abdul Wahab.
Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah
pengikut Ahmad Ibn Hanbal.
Ibnu Abd Wahab sendiri lahir
pada tahun 1703 M/1115 H di
Uyainah, masuk daerah Najd
yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia
sekarang. Dalam perjalanan
sejarahnya, Abdul Wahab,
sang ayah harus
diberhentikan dari jabatan
hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726
M/1139 H karena ulah sang
anak yang aneh dan
membahayakan tersebut.
Kakak kandungnya, Sulaiman
bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang
lebar tentang pemikiran adik
kandungnya tersebut (as-
sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-
wahabiyah). (Abdurrahman
Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62) Pemikiran Wahabi yang keras
dan kaku ini dipicu oleh
pemahaman keagamaan yang
mengacu bunyi harfiah teks
al-Qur'an maupun al-Hadits. Ini
yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi,
menolak tahlil, maulid Nabi
Saw, barzanji, manaqib, dan
sebagainya. Pemahaman yang
literer ala Wahabi pada
akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di
luar Wahabi sebagai orang
kafir dan keluar dari Islam.
Dus, orang Wahabi merasa
dirinya sebagai orang yang
paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin
dan juga paling selamat.
Mereka lupa bahwa
keselamatan yang sejati tidak
ditunjukkan dengan klaim-
klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara
beragama yang ikhlas, tulus
dan tunduk sepenuhnya pada
Allah Swt. Namun, ironisnya pemahaman
keagamaan Wahabi ini
ditopang oleh kekuasaan Ibnu
Saud yang saat itu menjadi
penguasa Najd. Ibnu Saud
sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang
hanya memanfaatkan
dukungan Wahabi, demi
untuk meraih kepentingan
politiknya belaka. Ibnu Saud
misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu
Abdul Wahab agar tidak
mengganggu kebiasaannya
mengumpulkan upeti tahunan
dari penduduk Dir'iyyah.
Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan
keduanya. Jika sebelum
bergabung dengan kekuasaan,
Ibnu Abdul Wahab telah
melakukan kekerasan dengan
membid'ahkan dan mengkafirkan orang di luar
mereka, maka ketika
kekuasaan Ibnu Saud
menopangnya, Ibnu Abdul
Wahab sontak melakukan
kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak
sepaham dengan mereka. Pada tahun 1746 M/1159 H,
koalisi Ibnu Abdul Wahab dan
Ibnu Saud memproklamirkan
jihad melawan siapapun yang
berbeda pemahaman tauhid
dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang
tidak sepaham dengan
tuduhan syirik, murtad dan
kafir. Setiap muslim yang
tidak sepaham dengan
mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh
dan bahkan wajib diperangi.
Sementara, predikat muslim
menurut Wahabi, hanya
merujuk secara eklusif pada
pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam
kitab Unwan al-Majd fi Tarikh
an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H,
Wahabi menyerang Karbala
dan membunuh mayoritas
penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di
rumah, termasuk anak-anak
dan wanita. Tak lama kemudian, yaitu
tahun 1805 M/1220 H, Wahabi
merebut kota Madinah. Satu
tahun berikutnya, Wahabi
pun menguasai kota Mekah. Di
dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam
tahun setengah. Para ulama
dipaksa sumpah setia dalam
todongan senjata.
Pembantaian demi
pembantaian pun dimulai. Wahabi pun melakukan
penghancuran besar-besaran
terhadap bangunan bersejarah
dan pekuburan, pembakaran
buku-buku selain al-Qur'an
dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa
mau'idzah hasanah sebelum
khutbah Jumat, larangan
memiliki rokok dan
menghisapnya bahkan sempat
mengharamkan kopi. Tercatat dalam sejarah,
Wahabi selalu menggunakan
jalan kekerasan baik secara
doktrinal, kultural maupun
sosial. Misalnya, dalam
penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih
dari 400 ribu umat Islam telah
dibunuh dan dieksekusi secara
publik, termasuk anak-anak
dan wanita. (Hamid Algar:
Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). Ketika berkuasa di
Hijaz, Wahabi menyembelih
Syaikh Abdullah Zawawi,
guru para ulama Madzhab
Syafii, meskipun umur beliau
sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar
Berdebat dengan Wahabi,
2010, hlm. 27). Di samping itu,
kekayaan dan para wanita di
daerah yang ditaklukkan
Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta
rampasan perang. Di sini, setidaknya kita melihat
dua hal tipologi Wahabi yang
senantiasa memaksakan
kehendak pemikirannya.
Pertama, ketika belum
memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan
kekerasan secara doktrinal,
intelektual dan psikologis
dengan menyerang siapapun
yang berbeda dengan mereka
sebagai murtad, musyrik dan kafir. Kedua, setelah mereka
memiliki kekuatan fisik dan
militer, tuduhan-tuduhan
tersebut dilanjutkan dengan
kekerasan fisik dengan cara
amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan.
Ironisnya, Wahabi ini
menyebut yang apa yang
dilakukannya sebagai
dakwah dan amar maruf nahi
mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam. *** Membanjirnya buku-buku
Wahabi di Toko Buku
Gramedia, Toga Mas, dan
sebagainya akhir-akhir ini,
hemat saya, adalah
merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh
kaum Wahabi secara
doktrinal, intelektual dan
sekaligus psikologis terhadap
umat Islam di Indonesia.
Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini
menilai bahwa cara efektif
yang bisa dilakukan adalah
dengan membid'ahkan,
memurtadkan,
memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang
berada di luar mereka. Jumlah
mereka yang minoritas hanya
memungkinkan mereka
untuk melakukan jalan
tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka
lebar-lebar untuk mereka. Saya yakin seyakin-yakinnya
jika suatu saat nanti kaum
Wahabi di negeri ini memiliki
kekuasaan yang berlebih dan
kekuatan militer di negeri ini,
mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan
pembantaian dan
pembunuhan terhadap sesama
muslim yang tidak satu
paham dengan mereka. Jika
wong NU, jam'iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas
lain yang satu barisan dengan
keislaman yang moderat dan
rahmatan lil alamien tidak
mampu membentenginya,
saya membayangkan Indonesia yang kelak
menjadi Arab Saudi jilid
kedua. Saya tidak dapat
membayangkan betapa
mirisnya jika para kiai dan
ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian
kaum Wahabi, terutama
ketika mereka sedang
berkuasa di negeri ini.
Naudzubillah wa naudzubilah
min dzalik. Wallahualam. ** * Wakil Sekretaris PCNU
Jember, Wakil Sekretaris
Yayasan Pendidikan Nahdaltul
Ulama Jember, PW Lajnah Talif
wa an-Nasyr NU Jawa Timur
dan kini menjabat sebagai Deputi Direktur Salsabila
Group.
perlawanan terhadap kaum
Wahabi. Seperti dituturkan KH
Abd. Muchith Muzadi, sang
Begawan NU dalam kuliah
Nahdlatulogi di Ma' had Aly Situbondo dua bulan yang
silam, jam'iyyah Nahdlatul
Ulama didirikan atas dasar
perlawanan terhadap dua
kutub ekstrem pemahaman
agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang
diwakili kaum Wahabi di
Saudi Arabia dan ekstrem kiri
yang sekuler dan diwakili
oleh Kemal Attartuk di Turki,
saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul
Ulama di tahun 1926 M
sejatinya merupakan simbol
perlawanan terhadap dua
kutub ekstrem tersebut. Hanya saja, kali ini, karena
keterbatasan space, saya akan
membatasi tulisan ini pada
bahasan kutub ekstrem yang
pertama, Wahabi. Pun bahwa
saya akan membatasi pembahasan Wahabi secara
khusus pada sejarah
kelamnya di masa lampau,
belum pada doktrin-doktrin,
tokoh-tokohnya atau juga
yang lainnya. Saya berharap bahwa fakta sejarah ini akan
dapat kita gunakan untuk
memprediksi kehidupan sosial
keagamaan kita di masa-masa
yang akan datang. Karena
bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh kaum Wahabi
saat itu merupakan goresan
noda hitam. Goresan noda
hitam inilah yang kini
mengubah wajah Islam yang
sejatinya pro damai menjadi sangat keras dan mengubah
Islam yang semula ramah
menjadi penuh amarah. *** Sebagaimana dimaklumi,
kaum Wahabi adalah sebuah
sekte Islam yang kaku dan
keras serta menjadi pengikut
Muhammad Ibn Abdul Wahab.
Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah
pengikut Ahmad Ibn Hanbal.
Ibnu Abd Wahab sendiri lahir
pada tahun 1703 M/1115 H di
Uyainah, masuk daerah Najd
yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia
sekarang. Dalam perjalanan
sejarahnya, Abdul Wahab,
sang ayah harus
diberhentikan dari jabatan
hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726
M/1139 H karena ulah sang
anak yang aneh dan
membahayakan tersebut.
Kakak kandungnya, Sulaiman
bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang
lebar tentang pemikiran adik
kandungnya tersebut (as-
sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-
wahabiyah). (Abdurrahman
Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62) Pemikiran Wahabi yang keras
dan kaku ini dipicu oleh
pemahaman keagamaan yang
mengacu bunyi harfiah teks
al-Qur'an maupun al-Hadits. Ini
yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi,
menolak tahlil, maulid Nabi
Saw, barzanji, manaqib, dan
sebagainya. Pemahaman yang
literer ala Wahabi pada
akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di
luar Wahabi sebagai orang
kafir dan keluar dari Islam.
Dus, orang Wahabi merasa
dirinya sebagai orang yang
paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin
dan juga paling selamat.
Mereka lupa bahwa
keselamatan yang sejati tidak
ditunjukkan dengan klaim-
klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara
beragama yang ikhlas, tulus
dan tunduk sepenuhnya pada
Allah Swt. Namun, ironisnya pemahaman
keagamaan Wahabi ini
ditopang oleh kekuasaan Ibnu
Saud yang saat itu menjadi
penguasa Najd. Ibnu Saud
sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang
hanya memanfaatkan
dukungan Wahabi, demi
untuk meraih kepentingan
politiknya belaka. Ibnu Saud
misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu
Abdul Wahab agar tidak
mengganggu kebiasaannya
mengumpulkan upeti tahunan
dari penduduk Dir'iyyah.
Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan
keduanya. Jika sebelum
bergabung dengan kekuasaan,
Ibnu Abdul Wahab telah
melakukan kekerasan dengan
membid'ahkan dan mengkafirkan orang di luar
mereka, maka ketika
kekuasaan Ibnu Saud
menopangnya, Ibnu Abdul
Wahab sontak melakukan
kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak
sepaham dengan mereka. Pada tahun 1746 M/1159 H,
koalisi Ibnu Abdul Wahab dan
Ibnu Saud memproklamirkan
jihad melawan siapapun yang
berbeda pemahaman tauhid
dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang
tidak sepaham dengan
tuduhan syirik, murtad dan
kafir. Setiap muslim yang
tidak sepaham dengan
mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh
dan bahkan wajib diperangi.
Sementara, predikat muslim
menurut Wahabi, hanya
merujuk secara eklusif pada
pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam
kitab Unwan al-Majd fi Tarikh
an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H,
Wahabi menyerang Karbala
dan membunuh mayoritas
penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di
rumah, termasuk anak-anak
dan wanita. Tak lama kemudian, yaitu
tahun 1805 M/1220 H, Wahabi
merebut kota Madinah. Satu
tahun berikutnya, Wahabi
pun menguasai kota Mekah. Di
dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam
tahun setengah. Para ulama
dipaksa sumpah setia dalam
todongan senjata.
Pembantaian demi
pembantaian pun dimulai. Wahabi pun melakukan
penghancuran besar-besaran
terhadap bangunan bersejarah
dan pekuburan, pembakaran
buku-buku selain al-Qur'an
dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa
mau'idzah hasanah sebelum
khutbah Jumat, larangan
memiliki rokok dan
menghisapnya bahkan sempat
mengharamkan kopi. Tercatat dalam sejarah,
Wahabi selalu menggunakan
jalan kekerasan baik secara
doktrinal, kultural maupun
sosial. Misalnya, dalam
penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih
dari 400 ribu umat Islam telah
dibunuh dan dieksekusi secara
publik, termasuk anak-anak
dan wanita. (Hamid Algar:
Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). Ketika berkuasa di
Hijaz, Wahabi menyembelih
Syaikh Abdullah Zawawi,
guru para ulama Madzhab
Syafii, meskipun umur beliau
sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar
Berdebat dengan Wahabi,
2010, hlm. 27). Di samping itu,
kekayaan dan para wanita di
daerah yang ditaklukkan
Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta
rampasan perang. Di sini, setidaknya kita melihat
dua hal tipologi Wahabi yang
senantiasa memaksakan
kehendak pemikirannya.
Pertama, ketika belum
memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan
kekerasan secara doktrinal,
intelektual dan psikologis
dengan menyerang siapapun
yang berbeda dengan mereka
sebagai murtad, musyrik dan kafir. Kedua, setelah mereka
memiliki kekuatan fisik dan
militer, tuduhan-tuduhan
tersebut dilanjutkan dengan
kekerasan fisik dengan cara
amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan.
Ironisnya, Wahabi ini
menyebut yang apa yang
dilakukannya sebagai
dakwah dan amar maruf nahi
mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam. *** Membanjirnya buku-buku
Wahabi di Toko Buku
Gramedia, Toga Mas, dan
sebagainya akhir-akhir ini,
hemat saya, adalah
merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh
kaum Wahabi secara
doktrinal, intelektual dan
sekaligus psikologis terhadap
umat Islam di Indonesia.
Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini
menilai bahwa cara efektif
yang bisa dilakukan adalah
dengan membid'ahkan,
memurtadkan,
memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang
berada di luar mereka. Jumlah
mereka yang minoritas hanya
memungkinkan mereka
untuk melakukan jalan
tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka
lebar-lebar untuk mereka. Saya yakin seyakin-yakinnya
jika suatu saat nanti kaum
Wahabi di negeri ini memiliki
kekuasaan yang berlebih dan
kekuatan militer di negeri ini,
mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan
pembantaian dan
pembunuhan terhadap sesama
muslim yang tidak satu
paham dengan mereka. Jika
wong NU, jam'iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas
lain yang satu barisan dengan
keislaman yang moderat dan
rahmatan lil alamien tidak
mampu membentenginya,
saya membayangkan Indonesia yang kelak
menjadi Arab Saudi jilid
kedua. Saya tidak dapat
membayangkan betapa
mirisnya jika para kiai dan
ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian
kaum Wahabi, terutama
ketika mereka sedang
berkuasa di negeri ini.
Naudzubillah wa naudzubilah
min dzalik. Wallahualam. ** * Wakil Sekretaris PCNU
Jember, Wakil Sekretaris
Yayasan Pendidikan Nahdaltul
Ulama Jember, PW Lajnah Talif
wa an-Nasyr NU Jawa Timur
dan kini menjabat sebagai Deputi Direktur Salsabila
Group.
Selasa, 07 Juni 2011
Tokoh Sunni Indonesia Membedah Wahabisme!
BUKU ini menyingkap hal-hal penting di balik wabah takfîr (pengkafiran), tasyrîk (pemusyrikan), tabdî’ (pembid’ahan) dan tasykîk (upaya menanamkan keraguan) terhadap para ulama Alussunnah wal Jamaah yang marak menjamur akhir-akhir ini. Semuanya disuguhkan secara sistematis namun ringan bagi Anda, di antaranya tentang:
- Kebenaran 17 (tujuh belas) ramalan Nabi Muhammad Saw. akan kehadiran sekte Salafi Wahabi berikut ciri-ciri mereka yang terangkum dalam sabda-sabda beliau.
- Sejarah berdirinya sekte Salafi Wahabi dan kepentingan-kepentingan tersembunyi di balik pendiriannya.
- Fakta-fakta pembunuhan sepanjang sejarah pendirian sekte Salafi Wahabi.
“SAYA rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih-sayang.” (Ust. H. Muhammad Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Zikir az-Zikra)
“BUKU ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap, setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan, dan adil dalam menyikapi permasalahan.” (KH. Dr. Ma’ruf Amin, M.A., Ketua Majelis Ulama Indonesia [MUI])
“SAYA sangat bergembira dengan adanya karya ilmiah dari Saudara Syaikh Idahram ini yang merupakan satu karya penting bagi masyarakat muslim Indonesia. Bisa dikatakan, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Salafi Wahabi.” (Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A., Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama [PBNU]).
- Kebenaran 17 (tujuh belas) ramalan Nabi Muhammad Saw. akan kehadiran sekte Salafi Wahabi berikut ciri-ciri mereka yang terangkum dalam sabda-sabda beliau.
- Sejarah berdirinya sekte Salafi Wahabi dan kepentingan-kepentingan tersembunyi di balik pendiriannya.
- Fakta-fakta pembunuhan sepanjang sejarah pendirian sekte Salafi Wahabi.
“SAYA rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih-sayang.” (Ust. H. Muhammad Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Zikir az-Zikra)
“BUKU ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap, setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan, dan adil dalam menyikapi permasalahan.” (KH. Dr. Ma’ruf Amin, M.A., Ketua Majelis Ulama Indonesia [MUI])
“SAYA sangat bergembira dengan adanya karya ilmiah dari Saudara Syaikh Idahram ini yang merupakan satu karya penting bagi masyarakat muslim Indonesia. Bisa dikatakan, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Salafi Wahabi.” (Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A., Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama [PBNU]).
Senin, 06 Juni 2011
Kang Said Diangkat Jadi Pengurus Lembaga Dakwah Islam Internasional Libya
Tripoli - Kedatangan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU KH.Said Aqil Siraj ke Libya
(21/6) tidak hanya membawa berkah bagi warga
nahdliyin Libya tetapi juga membawa berita cukup
membanggakan bagi semua nahdliyin pada
khusunya. Dalam kunjungannya kali ini yang merupakan
undangan dari presiden Libya Muammar Qadhafi ia
diangkat menjadi wakil sekretaris jendral Lembaga
Dakwah Islam Internasional yang berpusat di
Tripoli Libya. Lembaga Dakwah Islam Internasional merupakan
sebuah lembaga Islam yang didirikan oleh
pemerintah Libya untuk menangani semua hal
ihwal tentang Islam skala internasional. Adapun salah satu tujuan dibentukanya adalah
untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia
dengan cara yang damai dan mengedepankan
asas kemanusiaan sehingga mewujudkan Islam
sebagai agama rahmatan lil alamien, demikian
seperti dikutip dari keterangan pengurus lembaga. Kang Said didaulat sebagai wakil sekjen lembaga
dakwah islam internasional yang ditugasi untuk
membawahi wilayah Asia secara keseluruhan. Ia
menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki
oleh Din Syamsuddin dari PP Muhammadiyah. “Alhamdulillah saya dijadikan sebagai wakil sekjen Lembaga Dakwah Islam Internasional yang
membawahi wilayah Asia,” kata Kang Said saat diwawancarai NU Online di sela sela jadwalnya
yang sangat padat sekali di Libya.
(21/6) tidak hanya membawa berkah bagi warga
nahdliyin Libya tetapi juga membawa berita cukup
membanggakan bagi semua nahdliyin pada
khusunya. Dalam kunjungannya kali ini yang merupakan
undangan dari presiden Libya Muammar Qadhafi ia
diangkat menjadi wakil sekretaris jendral Lembaga
Dakwah Islam Internasional yang berpusat di
Tripoli Libya. Lembaga Dakwah Islam Internasional merupakan
sebuah lembaga Islam yang didirikan oleh
pemerintah Libya untuk menangani semua hal
ihwal tentang Islam skala internasional. Adapun salah satu tujuan dibentukanya adalah
untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia
dengan cara yang damai dan mengedepankan
asas kemanusiaan sehingga mewujudkan Islam
sebagai agama rahmatan lil alamien, demikian
seperti dikutip dari keterangan pengurus lembaga. Kang Said didaulat sebagai wakil sekjen lembaga
dakwah islam internasional yang ditugasi untuk
membawahi wilayah Asia secara keseluruhan. Ia
menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki
oleh Din Syamsuddin dari PP Muhammadiyah. “Alhamdulillah saya dijadikan sebagai wakil sekjen Lembaga Dakwah Islam Internasional yang
membawahi wilayah Asia,” kata Kang Said saat diwawancarai NU Online di sela sela jadwalnya
yang sangat padat sekali di Libya.
AFTER NEW PARADIGM: Catatan Para Ulama Tentang LDII
Penulis : Habib Setiawan, et. al. Buku ini mencoba memaparkan berbagai dimensi yang berkaitan dengan LDII, kelebihan sekaligus kekuranganya, dilengkapi dengan pandangan beberapa ulama dan tokoh masyarakat tentang ormas ini, baik yang pro maupun kontra. Dengan demikian, pembaca bisa melihat sejauh mana prinsip-prinsip LDII berbeda dengan ormas- ormas Islam lainnya;apakah perbedaan tersebut menyakut prinsip ma'ulima minaddin bidh- dharurah atau tidak;apakah perbedaan tersebut berada dalam koridor yang ditolerir atau tidak
Bab Tentang Air (Suci Dan Mensucikan)
Kitab Thahara ْﻦَﻋ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﺮْﺤَﺒْﻟﺍ ﻲِﻓ َﻮُﻫ ُﺭﻮُﻬَّﻄﻟﺍ ُﻩُﺅﺎَﻣ ُّﻞِﺤْﻟﺍ ُﻪُﺘَﺘْﻴَﻣ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُﺔَﻌَﺑْﺭَﺄْﻟﺍ ُﻦْﺑﺍَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺔَﺒْﻴَﺷ ُﻆْﻔَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻪَﻟ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ ُﻦْﺑﺍ َﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍَﻭ ُﻩﺍَﻭَﺭَﻭ ٌﻚِﻟﺎَﻣ ُﺪَﻤْﺣَﺃَﻭ ُّﻲِﻌِﻓﺎَّﺸﻟﺍَﻭ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. "Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal." Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi'i dan Ahmad juga meriwayatkannya. ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِّﻱِﺭْﺪُﺨْﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺇ َّﻥ َﺀﺎَﻤْﻟﺍ ٌﺀْﻲَﺷ ُﻪُﺴِّﺠَﻨُﻳ ﺎَﻟ ٌﺭﻮُﻬَﻃ ُﺔَﺛﺎَﻠَّﺜﻟﺍ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ﺪَﻤْﺣَﺃ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya (hakekat) air adalah suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya." Dikeluarkan oleh Imam Tiga dan dinilai shahih oleh Ahmad. ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺔَﻣﺎَﻣُﺃ ِّﻲِﻠِﻫﺎَﺒْﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َّﻥﺇ َﺀﺎَﻤْﻟﺍ ﺎَﻟ ُﻪُﺴِّﺠَﻨُﻳ ٌﺀْﻲَﺷ ﺎَّﻟﺇ ﺎَﻣ َﺐَﻠَﻏ ﻰَﻠَﻋ ِﻪِﺤﻳِﺭ ِﻪِﻤْﻌَﻃَﻭ ِﻪِﻧْﻮَﻟَﻭ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُﻦْﺑﺍ ْﻪَﺟﺎَﻣ ٍﻢِﺗﺎَﺣ ﻮُﺑَﺃ ُﻪَﻔَّﻌَﺿَﻭ Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah bau, rasa atau warnanya." Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim. ِّﻲِﻘَﻬْﻴَﺒْﻠِﻟَﻭ ُﺀﺎَﻤْﻟﺍ ٌﺭﻮُﻬَﻃ ﺎَّﻟﺇ ْﻥﺇ َﺮَّﻴَﻐَﺗ ُﻪُﺤﻳِﺭ ﻪﻴِﻓ ُﺙُﺪْﺤَﺗ ٍﺔَﺳﺎَﺠَﻨِﺑ ُﻪُﻧْﻮَﻟ ْﻭَﺃ ُﻪُﻤْﻌَﻃ ْﻭَﺃ Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi: "Air itu suci dan mensucikan kecuali jika ia berubah
baunya, rasanya atau warnanya dengan suatu najis yang masuk di dalamnya." ْﻦَﻋَﻭ ِﺪْﺒَﻋ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻦْﺑ َﺮَﻤُﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ : ﺍَﺫﺇ َﻥﺎَﻛ ُﺀﺎَﻤْﻟﺍ ِﻦْﻴَﺘَّﻠُﻗ ْﻢَﻟ ْﻞِﻤْﺤَﻳ َﺚَﺒَﺨْﻟﺍ ﻲِﻓَﻭ ٍﻆْﻔَﻟ ْﻢَﻟ ْﺲُﺠْﻨَﻳ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُﺔَﻌَﺑْﺭَﺄْﻟﺍ ﻥﺎَّﺒِﺣ ُﻦْﺑﺍَﻭ ُﻢِﻛﺎَﺤْﻟﺍَﻭ َﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ ُﻦْﺑﺍ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran." Dalam suatu lafadz hadits: "Tidak najis". Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibban. ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ ﺎَﻟ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﻲِﻓ ِﺀﺎَﻤْﻟﺍ ِﻢِﺋﺍَّﺪﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ ٌﺐُﻨُﺟ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub." Dikeluarkan oleh Muslim. َ ِّﻱِﺭﺎَﺨُﺒْﻠِﻟ ﺎَﻟ َّﻦَﻟﻮُﺒَﻳ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﻲِﻓ ِﺀﺎَﻤْﻟﺍ ﻱِﺮْﺠَﻳ ﺎَﻟ ﻱِﺬَّﻟﺍ ِﻢِﺋﺍَّﺪﻟﺍ ﻪﻴِﻓ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ َّﻢُﺛ Menurut Riwayat Imam Bukhari: "Janganlah sekali- kali seseorang di antara kamu kencing dalam air tergenang yang tidak mengalir kemudian dia mandi di dalamnya." َ ٍﻢِﻠْﺴُﻤِﻟَﻭ ُﻪْﻨِﻣ ﻲِﺑَﺄِﻟَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ : ﺎَﻟَﻭ ِﻪﻴِﻓ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ ِﺔَﺑﺎَﻨَﺠْﻟﺍ ْﻦِﻣ Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud: "Dan janganlah seseorang mandi junub di dalamnya." َ ْﻦَﻋَﻭ ٍﻞُﺟَﺭ َﺐِﺤَﺻ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻝﺎَﻗ : ﻰَﻬَﻧ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻥَﺃ َﻞِﺴَﺘْﻐَﺗ ُﺓَﺃْﺮَﻤْﻟﺍ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ِﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ْﻭَﺃ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ِﺓَﺃْﺮَﻤْﻟﺍ ﺎَﻓِﺮَﺘْﻐَﻴْﻟَﻭ ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ﻮُﺑَﺃ ٌﺢﻴِﺤَﺻ ُﻩُﺩﺎَﻨْﺳِﺇَﻭ ُّﻲِﺋﺎَﺴَّﻨﻟﺍَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ Seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang perempuan mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki dari sisa air
perempuan, namun hendaklah keduanya menyiduk (mengambil) air bersama-sama. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan sanadnya benar. َ ْﻦَﻋَﻭ ِﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ : َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َّﻥَﺃ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻥﺎَﻛ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ﺎَﻬْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ َﺔَﻧﻮُﻤْﻴَﻣ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ Dari Ibnu Abbas r.a: Bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah r.a. Diriwayatkan oleh Imam Muslim. َ ِﺏﺎَﺤْﺻَﺄِﻟَﻭ ِﻦَﻨُّﺴﻟﺍ : َﻞَﺴَﺘْﻏﺍ ُﺾْﻌَﺑ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ِﺝﺍَﻭْﺯَﺃ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِﻓ ٍﺔَﻨْﻔَﺟ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ َﺀﺎَﺠَﻓ ﺎَﻬْﻨِﻣ ْﺖَﻟﺎَﻘَﻓ : ﻲِّﻧﺇ ﺖْﻨُﻛ ﺎًﺒُﻨُﺟ َﻝﺎَﻘَﻓ : َّﻥﺇ َﺀﺎَﻤْﻟﺍ ﺎَﻟ ُﺐُﻨْﺠَﻳ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍ ُﻦْﺑﺍَﻭ َﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ Menurut para pengarang kitab Sunan: Sebagian istri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mandi dalam satu tempat air, lalu Nabi datang hendak mandi dengan air itu, maka berkatalah istrinya: Sesungguhnya aku sedang junub. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub." Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﺭﻮُﻬُﻃ ِﺀﺎَﻧﺇ ْﻢُﻛِﺪَﺣَﺃ ﺍَﺫﺇ َﻎَﻟَﻭ ِﻪﻴِﻓ ُﺐْﻠَﻜْﻟﺍ ُﻪَﻠِﺴْﻐَﻳ ْﻥَﺃ َﻊْﺒَﺳ ٍﺕﺍَّﺮَﻣ َّﻦُﻫﺎَﻟﻭُﺃ ِﺏﺍَﺮُّﺘﻟﺎِﺑ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ ﻲِﻓَﻭ ٍﻆْﻔَﻟ ُﻪَﻟ ُﻪْﻗِﺮُﻴْﻠَﻓ ِّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻠِﻟَﻭ َّﻦُﻫﺍَﺮْﺧُﺃ ْﻭَﺃ َّﻦُﻫﺎَﻟﻭُﺃ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah." Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: "Hendaklah ia membuang air itu." Menurut riwayat Tirmidzi: "Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah). َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َّﻥَﺃ َﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻝﺎَﻗ - ﺓَّﺮِﻬْﻟﺍ ﻲِﻓ ِ - : ﺎَﻬَّﻧﺇ ْﺖَﺴْﻴَﻟ ٍﺲَﺠَﻨِﺑ ﺎَﻤَّﻧﺇ َﻲِﻫ ْﻦِﻣ َﻦﻴِﻓﺍَّﻮَّﻄﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُﺔَﻌَﺑْﺭَﺄْﻟﺍ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍ ﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ ُﻦْﺑﺍَﻭ Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. َ ْﻦَﻋَﻭ ِﺲَﻧَﺃ ِﻦْﺑ ٍﻚِﻟﺎَﻣ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﺀﺎَﺟ ٌّﻲِﺑﺍَﺮْﻋَﺃ َﻝﺎَﺒَﻓ ﻲِﻓ ِﺔَﻔِﺋﺎَﻃ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ُﻩَﺮَﺟَﺰَﻓ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻢُﻫﺎَﻬَﻨَﻓ ﺎَّﻤَﻠَﻓ ﻰَﻀَﻗ ُﻪَﻟْﻮَﺑ َﺮَﻣَﺃ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ٍﺏﻮُﻧَﺬِﺑ ْﻦِﻣ ؛ٍﺀﺎَﻣ َﻖﻳِﺮْﻫُﺄَﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ٌﻖَﻔَّﺘُﻣ ِﻪْﻴَﻠَﻋ Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: "Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu." Muttafaq Alaihi. َ ْﻦَﻋَﻭ ِﻦْﺑﺍ َﺮَﻤُﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺎَﻨَﻟ ْﺖَّﻠِﺣُﺃ ِﻥﺎَﺘَﺘْﻴَﻣ ِﻥﺎَﻣَﺩَﻭ . ﺎَّﻣَﺄَﻓ ِﻥﺎَﺘَﺘْﻴَﻤْﻟﺍ : ُﺩﺍَﺮَﺠْﻟﺎَﻓ ُﺕﻮُﺤْﻟﺍَﻭ ﺎَّﻣَﺃَﻭ ِﻥﺎَﻣَّﺪﻟﺍ : ُﻝﺎَﺤِّﻄﻟﺎَﻓ ُﺪِﺒَﻜْﻟﺍَﻭ ٌﻒْﻌَﺿ ِﻪﻴِﻓَﻭ ْﻪَﺟﺎَﻣ ُﻦْﺑﺍَﻭ ُﺪَﻤْﺣَﺃ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺍَﺫﺇ َﻊَﻗَﻭ ُﺏﺎَﺑُّﺬﻟﺍ ِﺏﺍَﺮَﺷ ﻲِﻓ ْﻢُﻛِﺪَﺣَﺃ ُﻪْﺴِﻤْﻐَﻴْﻠَﻓ َّﻢُﺛ ُﻪْﻋِﺰْﻨَﻴِﻟ َّﻥِﺈَﻓ ﻲِﻓ ِﺪَﺣَﺃ ِﻪْﻴَﺣﺎَﻨَﺟ ًﺀﺍَﺩ ﻲِﻓَﻭ ِﺮَﺧﺂْﻟﺍ ًﺀﺎَﻔِﺷ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُّﻱِﺭﺎَﺨُﺒْﻟﺍ ﻮُﺑَﺃَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ . َﺩﺍَﺯَﻭ ُﻪَّﻧِﺇَﻭ ﻲِﻘَّﺘَﻳ ُﺀﺍَّﺪﻟﺍ ِﻪﻴِﻓ ﻱِﺬَّﻟﺍ ِﻪِﺣﺎَﻨَﺠِﺑ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawar." Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: "Dan hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya." َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ ٍﺪِﻗﺍَﻭ َﻲِﺿَﺭ ِّﻲِﺜْﻴَّﻠﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻦِﻣ َﻊِﻄُﻗ ﺎَﻣ ِﺔَﻤﻴِﻬَﺒْﻟﺍ - َﻲِﻫَﻭ ٌﺔَّﻴَﺣ - َﻮُﻬَﻓ ٌﺖِّﻴَﻣ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ﻮُﺑَﺃ ُﻪَﻟ ُﻆْﻔَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻪَﻨَّﺴَﺣَﻭ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Anggota yang terputus dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai." Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi.
baunya, rasanya atau warnanya dengan suatu najis yang masuk di dalamnya." ْﻦَﻋَﻭ ِﺪْﺒَﻋ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻦْﺑ َﺮَﻤُﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ : ﺍَﺫﺇ َﻥﺎَﻛ ُﺀﺎَﻤْﻟﺍ ِﻦْﻴَﺘَّﻠُﻗ ْﻢَﻟ ْﻞِﻤْﺤَﻳ َﺚَﺒَﺨْﻟﺍ ﻲِﻓَﻭ ٍﻆْﻔَﻟ ْﻢَﻟ ْﺲُﺠْﻨَﻳ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُﺔَﻌَﺑْﺭَﺄْﻟﺍ ﻥﺎَّﺒِﺣ ُﻦْﺑﺍَﻭ ُﻢِﻛﺎَﺤْﻟﺍَﻭ َﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ ُﻦْﺑﺍ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran." Dalam suatu lafadz hadits: "Tidak najis". Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibban. ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ ﺎَﻟ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﻲِﻓ ِﺀﺎَﻤْﻟﺍ ِﻢِﺋﺍَّﺪﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ ٌﺐُﻨُﺟ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub." Dikeluarkan oleh Muslim. َ ِّﻱِﺭﺎَﺨُﺒْﻠِﻟ ﺎَﻟ َّﻦَﻟﻮُﺒَﻳ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﻲِﻓ ِﺀﺎَﻤْﻟﺍ ﻱِﺮْﺠَﻳ ﺎَﻟ ﻱِﺬَّﻟﺍ ِﻢِﺋﺍَّﺪﻟﺍ ﻪﻴِﻓ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ َّﻢُﺛ Menurut Riwayat Imam Bukhari: "Janganlah sekali- kali seseorang di antara kamu kencing dalam air tergenang yang tidak mengalir kemudian dia mandi di dalamnya." َ ٍﻢِﻠْﺴُﻤِﻟَﻭ ُﻪْﻨِﻣ ﻲِﺑَﺄِﻟَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ : ﺎَﻟَﻭ ِﻪﻴِﻓ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ ِﺔَﺑﺎَﻨَﺠْﻟﺍ ْﻦِﻣ Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud: "Dan janganlah seseorang mandi junub di dalamnya." َ ْﻦَﻋَﻭ ٍﻞُﺟَﺭ َﺐِﺤَﺻ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻝﺎَﻗ : ﻰَﻬَﻧ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻥَﺃ َﻞِﺴَﺘْﻐَﺗ ُﺓَﺃْﺮَﻤْﻟﺍ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ِﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ْﻭَﺃ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ِﺓَﺃْﺮَﻤْﻟﺍ ﺎَﻓِﺮَﺘْﻐَﻴْﻟَﻭ ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ﻮُﺑَﺃ ٌﺢﻴِﺤَﺻ ُﻩُﺩﺎَﻨْﺳِﺇَﻭ ُّﻲِﺋﺎَﺴَّﻨﻟﺍَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ Seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang perempuan mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki dari sisa air
perempuan, namun hendaklah keduanya menyiduk (mengambil) air bersama-sama. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan sanadnya benar. َ ْﻦَﻋَﻭ ِﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ : َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َّﻥَﺃ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻥﺎَﻛ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ ِﻞْﻀَﻔِﺑ ﺎَﻬْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ َﺔَﻧﻮُﻤْﻴَﻣ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ Dari Ibnu Abbas r.a: Bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah r.a. Diriwayatkan oleh Imam Muslim. َ ِﺏﺎَﺤْﺻَﺄِﻟَﻭ ِﻦَﻨُّﺴﻟﺍ : َﻞَﺴَﺘْﻏﺍ ُﺾْﻌَﺑ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ِﺝﺍَﻭْﺯَﺃ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِﻓ ٍﺔَﻨْﻔَﺟ ُﻞِﺴَﺘْﻐَﻳ َﺀﺎَﺠَﻓ ﺎَﻬْﻨِﻣ ْﺖَﻟﺎَﻘَﻓ : ﻲِّﻧﺇ ﺖْﻨُﻛ ﺎًﺒُﻨُﺟ َﻝﺎَﻘَﻓ : َّﻥﺇ َﺀﺎَﻤْﻟﺍ ﺎَﻟ ُﺐُﻨْﺠَﻳ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍ ُﻦْﺑﺍَﻭ َﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ Menurut para pengarang kitab Sunan: Sebagian istri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mandi dalam satu tempat air, lalu Nabi datang hendak mandi dengan air itu, maka berkatalah istrinya: Sesungguhnya aku sedang junub. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub." Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﺭﻮُﻬُﻃ ِﺀﺎَﻧﺇ ْﻢُﻛِﺪَﺣَﺃ ﺍَﺫﺇ َﻎَﻟَﻭ ِﻪﻴِﻓ ُﺐْﻠَﻜْﻟﺍ ُﻪَﻠِﺴْﻐَﻳ ْﻥَﺃ َﻊْﺒَﺳ ٍﺕﺍَّﺮَﻣ َّﻦُﻫﺎَﻟﻭُﺃ ِﺏﺍَﺮُّﺘﻟﺎِﺑ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ٌﻢِﻠْﺴُﻣ ﻲِﻓَﻭ ٍﻆْﻔَﻟ ُﻪَﻟ ُﻪْﻗِﺮُﻴْﻠَﻓ ِّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻠِﻟَﻭ َّﻦُﻫﺍَﺮْﺧُﺃ ْﻭَﺃ َّﻦُﻫﺎَﻟﻭُﺃ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah." Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: "Hendaklah ia membuang air itu." Menurut riwayat Tirmidzi: "Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah). َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َّﻥَﺃ َﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻝﺎَﻗ - ﺓَّﺮِﻬْﻟﺍ ﻲِﻓ ِ - : ﺎَﻬَّﻧﺇ ْﺖَﺴْﻴَﻟ ٍﺲَﺠَﻨِﺑ ﺎَﻤَّﻧﺇ َﻲِﻫ ْﻦِﻣ َﻦﻴِﻓﺍَّﻮَّﻄﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُﺔَﻌَﺑْﺭَﺄْﻟﺍ ُﻪَﺤَّﺤَﺻَﻭ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍ ﺔَﻤْﻳَﺰُﺧ ُﻦْﺑﺍَﻭ Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. َ ْﻦَﻋَﻭ ِﺲَﻧَﺃ ِﻦْﺑ ٍﻚِﻟﺎَﻣ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﺀﺎَﺟ ٌّﻲِﺑﺍَﺮْﻋَﺃ َﻝﺎَﺒَﻓ ﻲِﻓ ِﺔَﻔِﺋﺎَﻃ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ُﻩَﺮَﺟَﺰَﻓ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻢُﻫﺎَﻬَﻨَﻓ ﺎَّﻤَﻠَﻓ ﻰَﻀَﻗ ُﻪَﻟْﻮَﺑ َﺮَﻣَﺃ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ٍﺏﻮُﻧَﺬِﺑ ْﻦِﻣ ؛ٍﺀﺎَﻣ َﻖﻳِﺮْﻫُﺄَﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ٌﻖَﻔَّﺘُﻣ ِﻪْﻴَﻠَﻋ Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: "Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu." Muttafaq Alaihi. َ ْﻦَﻋَﻭ ِﻦْﺑﺍ َﺮَﻤُﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻤُﻬْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺎَﻨَﻟ ْﺖَّﻠِﺣُﺃ ِﻥﺎَﺘَﺘْﻴَﻣ ِﻥﺎَﻣَﺩَﻭ . ﺎَّﻣَﺄَﻓ ِﻥﺎَﺘَﺘْﻴَﻤْﻟﺍ : ُﺩﺍَﺮَﺠْﻟﺎَﻓ ُﺕﻮُﺤْﻟﺍَﻭ ﺎَّﻣَﺃَﻭ ِﻥﺎَﻣَّﺪﻟﺍ : ُﻝﺎَﺤِّﻄﻟﺎَﻓ ُﺪِﺒَﻜْﻟﺍَﻭ ٌﻒْﻌَﺿ ِﻪﻴِﻓَﻭ ْﻪَﺟﺎَﻣ ُﻦْﺑﺍَﻭ ُﺪَﻤْﺣَﺃ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺍَﺫﺇ َﻊَﻗَﻭ ُﺏﺎَﺑُّﺬﻟﺍ ِﺏﺍَﺮَﺷ ﻲِﻓ ْﻢُﻛِﺪَﺣَﺃ ُﻪْﺴِﻤْﻐَﻴْﻠَﻓ َّﻢُﺛ ُﻪْﻋِﺰْﻨَﻴِﻟ َّﻥِﺈَﻓ ﻲِﻓ ِﺪَﺣَﺃ ِﻪْﻴَﺣﺎَﻨَﺟ ًﺀﺍَﺩ ﻲِﻓَﻭ ِﺮَﺧﺂْﻟﺍ ًﺀﺎَﻔِﺷ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ُّﻱِﺭﺎَﺨُﺒْﻟﺍ ﻮُﺑَﺃَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ . َﺩﺍَﺯَﻭ ُﻪَّﻧِﺇَﻭ ﻲِﻘَّﺘَﻳ ُﺀﺍَّﺪﻟﺍ ِﻪﻴِﻓ ﻱِﺬَّﻟﺍ ِﻪِﺣﺎَﻨَﺠِﺑ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawar." Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: "Dan hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya." َ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ ٍﺪِﻗﺍَﻭ َﻲِﺿَﺭ ِّﻲِﺜْﻴَّﻠﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻦِﻣ َﻊِﻄُﻗ ﺎَﻣ ِﺔَﻤﻴِﻬَﺒْﻟﺍ - َﻲِﻫَﻭ ٌﺔَّﻴَﺣ - َﻮُﻬَﻓ ٌﺖِّﻴَﻣ ُﻪَﺟَﺮْﺧَﺃ ﻮُﺑَﺃ ُﻪَﻟ ُﻆْﻔَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻪَﻨَّﺴَﺣَﻭ ُّﻱِﺬِﻣْﺮِّﺘﻟﺍَﻭ ﺩُﻭﺍَﺩ Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Anggota yang terputus dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai." Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi.
Ciri-ciri ajaran kesesatan diantaranya
a. Mengajak taqlid pada madzhab tertentu bahkan
melarang umat Islam berpedoman Langsung pada
Al-Qur'an dan Al-Hadits.
b. Mengajak memperbaharui pemahaman Islam
berdasarkan ro'yu mengikuti tuntutan kemajuan dan perkembangan masyarakat dengan
meninggalkan mengaji Al-Qur'an dan Al-Hadits
secara manqul-musnad-muttashil.
c. Mengajak mengikuti kepercayaan yg menyalahi
aqidah islam yakni syirik, takhayul dan khurofat.
d. Mengajak melakukan perbuatan bid'ah serta memadamkan pengamalan sunnah Rosululloh
Shollallohu 'alaihi wasallam.
e. Mengajak firqoh meninggalkan Jama'ah dengan
mengajarkan bahwa berjama'ah hukum nya tdk
wajib.
Imam yg sah haruslah dari bangsa Quraisy, imam harus satu or bagi seluruh umat Islam se dunia dan
lain-lain sehingga menganggap Jama'ah Qur'an
Hadits yg tlh terwujud ini tdk sah, sesat dan
sebagainya. Selain pengaruh dan ajaran-ajaran sesat dari
kalangan dalam umat Islam sendiri . Juga harus
diwaspadai pengaruh-pengaruh dan ajakan-ajakan
dari golongan Yahudi dan Nasrani.
Dengan berbagai pengaruh yg halus dan lembut.
Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghancurkan aqidah islam dan menjerumuskan
umat Islam dalam kemaksiatan dan kesesatan.
Bukankah Allah telah berfirman :
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang
kepadamu (Muhammad) sehingga engkau
mengikuti agama mereka . . ." Surat Al baqoro 12 Banyaknya Pengaruh dan Ajakan yg Menyesatkan. Dalam hadits pertama Rosululloh Shollallohu 'alaihi
wasallam mengingatkan bahwa kelak akan muncul
dalam kalangan umat Islam orang-orang yg
mengajak ke neraka jahanam atau jalan yg sesat.
Penyeru kesesatan ini menyampaikan propaganda
atau ajakan sesat dengan membawa ayat-aya Al- Qur'an sehingga banyak umat Islam tertipu. Hadits kedua menjelaskan bahwa kelak akan
muncul firqoh-firqo atau golongan-golongan dlm
tubuh kaum muslimin mencapai 72 golongan.
Munculnya golongan-golongan semacam ini akibat
ulah para penyeru kesesatan Mereka mengajak
masyarakat untuk mengikuti faham dan ajaran golongannya atau madzhabny dan mengabaikan
perintah untuk berpegangan pada Al-Qur'an dan Al-
Hadits. Seruan mereka dikatakan sesat karena menyalahi
pemahaman yg telah disampaikan Rosululloh
Shollallohu 'alaihi wasallam kepada para
shohabatnya.
Mereka memahami makna dan isi ayat-ayat Al-Qur'an
yg diwahyukan oleh Alloh tdk sesuai dngn yg telh diajarkan Rosululloh Shollallohu 'alaihi wasallam
kepd para shohabatny dngn cara yg diridloi oleh
Alloh dan diterima secara benar dan dipraktekkan
secara murni, jelasnya mereka tidak Manqul-
musnad-muttashil Mukhlish Jama'ah.
melarang umat Islam berpedoman Langsung pada
Al-Qur'an dan Al-Hadits.
b. Mengajak memperbaharui pemahaman Islam
berdasarkan ro'yu mengikuti tuntutan kemajuan dan perkembangan masyarakat dengan
meninggalkan mengaji Al-Qur'an dan Al-Hadits
secara manqul-musnad-muttashil.
c. Mengajak mengikuti kepercayaan yg menyalahi
aqidah islam yakni syirik, takhayul dan khurofat.
d. Mengajak melakukan perbuatan bid'ah serta memadamkan pengamalan sunnah Rosululloh
Shollallohu 'alaihi wasallam.
e. Mengajak firqoh meninggalkan Jama'ah dengan
mengajarkan bahwa berjama'ah hukum nya tdk
wajib.
Imam yg sah haruslah dari bangsa Quraisy, imam harus satu or bagi seluruh umat Islam se dunia dan
lain-lain sehingga menganggap Jama'ah Qur'an
Hadits yg tlh terwujud ini tdk sah, sesat dan
sebagainya. Selain pengaruh dan ajaran-ajaran sesat dari
kalangan dalam umat Islam sendiri . Juga harus
diwaspadai pengaruh-pengaruh dan ajakan-ajakan
dari golongan Yahudi dan Nasrani.
Dengan berbagai pengaruh yg halus dan lembut.
Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghancurkan aqidah islam dan menjerumuskan
umat Islam dalam kemaksiatan dan kesesatan.
Bukankah Allah telah berfirman :
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang
kepadamu (Muhammad) sehingga engkau
mengikuti agama mereka . . ." Surat Al baqoro 12 Banyaknya Pengaruh dan Ajakan yg Menyesatkan. Dalam hadits pertama Rosululloh Shollallohu 'alaihi
wasallam mengingatkan bahwa kelak akan muncul
dalam kalangan umat Islam orang-orang yg
mengajak ke neraka jahanam atau jalan yg sesat.
Penyeru kesesatan ini menyampaikan propaganda
atau ajakan sesat dengan membawa ayat-aya Al- Qur'an sehingga banyak umat Islam tertipu. Hadits kedua menjelaskan bahwa kelak akan
muncul firqoh-firqo atau golongan-golongan dlm
tubuh kaum muslimin mencapai 72 golongan.
Munculnya golongan-golongan semacam ini akibat
ulah para penyeru kesesatan Mereka mengajak
masyarakat untuk mengikuti faham dan ajaran golongannya atau madzhabny dan mengabaikan
perintah untuk berpegangan pada Al-Qur'an dan Al-
Hadits. Seruan mereka dikatakan sesat karena menyalahi
pemahaman yg telah disampaikan Rosululloh
Shollallohu 'alaihi wasallam kepada para
shohabatnya.
Mereka memahami makna dan isi ayat-ayat Al-Qur'an
yg diwahyukan oleh Alloh tdk sesuai dngn yg telh diajarkan Rosululloh Shollallohu 'alaihi wasallam
kepd para shohabatny dngn cara yg diridloi oleh
Alloh dan diterima secara benar dan dipraktekkan
secara murni, jelasnya mereka tidak Manqul-
musnad-muttashil Mukhlish Jama'ah.
Jumat, 28 Januari 2011
SURURIYYAH TERUS MELANDA MUSLIMIN INDONESIA
SURURIYYAH TERUS MELANDA
MUSLIMIN INDONESIA
(Penulis: Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed)
(Dimulai dengan Khutbatul Haajjah)
Alhamdulillah, ama ba’du
Ikhwani fiddin a’azakumullah,
Disini ada pertanyaan yang berkaitan dengan fitnah Sururiyyah. Dan berkaitan pula dengan tokoh-tokohnya dan orang-orangnya. Ditanyakan disini dari mulaiABU QATADAH (Da'i Al Sofwah Jakarta, red),ABU HAIDAR (As Sunnah, Bandung, red),YAZID JAWWAS (rekan Abdul Hakim Abdat, da'i Al Sofwah/Al Haramain, red),ABU NIDA' (At Turots, Jogjakarta red),
AUNUROFIQ GUFRON (Ma'had Al Furqan, Gresik, red), YUSUF BAI’SA (Ma'had Al Irsyad,
Tengaran, Salatiga, red),ABDURRAHMAN ABDUL KHOLIQ, AINUL HARITS, ARIFIN,
ABDUL HAKIM ABDAT (da'i Al Haramain/Al Sofwah), dan lain-lainnya. dan kemudian
ditanyakan pulaAL-SOFWA, AT TUROTS, AL IRSYAD, dan lain-lain.
Tentunya lebih tepat kalau saya jawab dari belakang dulu, dari organisasinya dulu, dan lebih bagus lagi kalau saya menerangkan pada antum tentang fikrohnya dulu, ya’ni fikroh Sururiyyah dulu . Ya’ni Sururiyyah berasal dari kata Surur atau dari namaMUHAMMAD SURUR NAYIF
ZAINAL ABIDIN. Muhammad Surur adalah seorang yang tadinya Ikhwanul Muslimin (IM),
kemudian dia keluar dari IM, dan kemudian mengaku Salafy. Orang yang sejenis Muhammad Surur ini banyak, sepertiABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ itupun dari IM kemudian keluar dan kemudian mensyiarkan dirinya sebagai Salafy. Atau mengaku Salafy.
Orang-orang jenis ini mereka keluar Ikhwanul Muslimin dari Harokah IM, atau partai politik IM atau keluar dari kelompok firqoh IM, dan menyatakan taubat dari IM, dan menyatakan taubat "saya keluar dan saya taubat" seperti juga Muhammad Quthub itu juga mengaku keluar dan kembali kepada Salaf , tetapi dalam perjalanan mereka yang katanya mau kembali kepada Salaf, ternyata masih memiliki fikroh Ikhwaniyyah. Fikrohnya Ikhwanul Muslimin atau prinsip cara berfikir Ikhwanul Muslimin. Yang tentunya kita harus tahu bahwasannya prinsip IM ini berarti atau prinsip Sururiyyah ini berari sama dengan prinsip IM sesungguhnya, hanya beda istilah saja.
Apa yang dikatakan oleh para IM juga diucapkan pula oleh Sururiyyin, hakikatnya. Dengan cara dan bentuk istilah yang berbeda tapi intinya sama maka. Kalau begitu sururiyyah sama dengan ikhwaniyah dan kita perlu menerangkan tentang Ikhwanul Muslimin itu sendiri. Ikhwanul Muslimin, prinsip bid’ah mereka yang menjadikan mereka menjadi kelompok sempalan yang keluar dari Ahlus Sunnah adalah karena mereka memiliki prinsip“NATA’AWAN FIMA
TAFAKNA WA NA’DZIRU BA’DINA BA’DON FI MAKHTALAFNA”kata mereka "kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda".
Ini prinsipnya IM, saya ulangi Nata’awan fima tafakna, "Kita saling kerja sama saling bantu membantu dalam apa yang kita sama, kita sepakati dan kita memaklumi hormat menghormati, dengan apa yang kita berbeda". Dengan prinsip ini IM tidak menganggap ada ahlil bid’ah sama sekali, semuanya kawan tidak ada lawan. "Ahlil bid’ah mereka sama-sama sholat dengan kita, maka kita tolong menolong dalam apa yang kita sepakati, mereka sama-sama…" pokoknya apa yang kita sama kita kerja sama, ini IM. SehinggaHASAN AL-BANNA, AT-TUROBI, dan sekian banyak tokoh-tokoh mereka selalu berusaha menggabungkan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan mereka mengatakan yel-yel Laa Syarqiyyah, Laa Gharbiyyah, Laa Sunniy, wa Laa Syi’ah, Islamiyyah, Islamiyyah, itu yel-yel yang selalu mereka dengungkan anasid dengan sair, dengan nyanyi dengan ikrar, "Tidak timur tidak barat tidak Sunni tidak Syi’ah yang penting Islam" kata mereka ini prinsip mereka kemudian ditebarkan pada masyarakat. "Kalian jangan ribut terus sudahlah jangan saling menyalah-nyalahkan, semuanya apakah dia Salaf apakah dia Sufi, apakah dia Mu’tazili, Syiah, semua itu saudara, semua Muslimin. Apa yang kita sama kita tolong menolong dan apa yang kita beda, kita hormat-menghormati", katanya begitu .Ini sepintas kilas perkaranya agak masuk akal, "Iya ya, kalau nggak gini gak akan bersatu", sepintas kilas kalau kalau dipikir akal saja.
Padahal kata para ulama prinsip ini akan meruntuhkan agama secara keseluruhan dan prinsip ini menggugurkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. [ketika kamu] mau mengingkari kebid’ahan, [mereka katakan: ] “ ...jangan ya akhi kita harus saling menghormati, kita jangan menyalahkan mereka", begitu, sehingga tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Dan berarti membolehkan manusia berjalan di jalan bid’ah manapun, ini sudah jelas sesatnya. Sehingga di dalam Ikhwanul Muslimin Jangan kamu kira mereka sama statusnya, fikirannya, aqidahnya.
Di kalangan IM ada Sufi, Syi’ah,ada semua ahli bid’ah kecuali Salafy. Kenapa? Yang (katanya) Salafy dalam masalah Aqidahnyapun prinsipnya tetap prinsip ikhwan. PRINSIP AQIDAHNYA YANG KATANYA SALAFY, TETAPI TETAP MENGHORMATI AHLUL BID’AH. DAN TERNYATA INI ADALAH YANG NAMANYA SURURIYYIN. Dalam AQIDAH KATANYA MEMPELAJARI AQIDAH SALAF, KATANYA, TETAPI PRINSIPNYA SAMA, SESAMA AHLUL BID’AHPUN HARUS SALING MENGHORMATI DAN SEBAGAINYA. INI PRINSIP UTAMANYA.
Namun sekarang ketika orang-orang yang dulunya keluar dari IM tadi apakah Muhammad Surur apakah Abdurrahman Abdul Kholiq apaMUHAMMAD QUTHB dan menyatakan "IM itu salah, IM itu sesat kami kembali kepada salaf", ternyata mereka mengajarkan aqidah Salaf, mengajarkan aqidah salaf sehingga sama dengan Salafiyin, tetapi mereka tetap mengatakan bahwa Ahlul bid’ah juga punya kebaikan, jadi jangan dimusuhi 100 persen, mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja. Nah ini lihat, kalimat "mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja" itu sesungguhnya terjemahan dari apa yang dikatakan Ikhwanul Muslimin, yaitu saling hormat-menghormati, inilah yang akhirnya menjadi masalah. Akhirnya segala macam orang-orang yang keluar dari IM yang dielu-elukan taubat masya Allah, sebagai seorang Salafy sekarang. Ternyata warnanya kok lama kelamaan agak berbeda kok aneh, kok agak beda, ketika tambah jauh, tambah kelihatan berpisahnya antara para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafiyun dengan tokoh-tokoh mereka. Agak berbeda, terus begitu, kemudian dalam masalah sikap pemerintah juga berbeda, dalam masalah politik juga berbeda, mereka sama seperti IM.
Sekali lagi sama, Cuma istilah-istilahnya yang berbeda. Mereka mengatakan pentingnya Tsaqofah Islamiyyah, ini Ikhwanul Muslimin. Tsaqofah Islamiyah adalah wawasan.kata Ikhwanul Muslimin "Kita jangan terpaku dengan Quran Sunnah saja, tetapi tidak mengerti situasi dan kondisi politik yang ada, kita harus ikut menyaksikan kondisi politik sepaya kita bisa bersikap supaya kita bisa berjuang dengan jihad politik", katanya. Itu IM, terang-terangan mengatakan jihad politik. Makanya banyak istilah-istilah yang dipakai oleh para politikus sekarang ini, ada jihad politik, ada apa segala macem itu, itu karena diantaranya mereka banyak terbawa dengan tokoh-tokoh IM di dalam partai Keadilan dan sejenisnya. Kemudian mereka yang telah keluar dari IM, ternyata fikroh-fikroh itu masih ada, tetapi istilahnya agak ganti dengan bahasa Fiqhul Waqi’.SALMAN AUDAH, A’iDH AL QORNI, kemudian siapa lagi … Muhammad Surur dan sebagainya semuanya mengelu-elukan “Jangan kita selalu kitab-sunnah,kitab sunnah tetapi tidak memperhatikan lingkungan kita, lingkungan situasi-kondisi kita tidak tahu, kita harus tahu, kita harus belajar satu ilmu namanya Fiqhul Waqi’, memahami kenyataan yang terjadi". Sama toh dengan yang tadi? Kalau tadi dengan istilah Tsaqofah, sekarang dengan istilah fiqhul waqi. Abdurrahman Abdul Khaliq ketika Fiqhul Waqi’nya dibahas oleh para Ulama, lain lagi dia istilahnya bukan Fiqhul Waqi’, tetapi setali tiga uang, persis.
Kata Abdurrahman Abdul Kholiq, "Kita dalam memahami, dalam berda’wah ini selain ini, kita harus punya Shifatul ‘Asr". Ini istilahnya Abdurrahman Abdul Kholiq. Apa Shifatul ‘Ashr?, Al Ashriyah dengan gaya bahasa dia bilang "Ashriye, kita harus tahu Al Ashriye", yakni "keadaan kondisi situasi politik yang ada", begitu, sama ternyata. Dan ingat bukan berarti Ahlussunnah wal jamaah dan para Ulamanya menentang perlunya Fiqhul Waqi’ atau Tsaqofah atau shifatul Ashr bukan menolak perlunya. Perlu tetapi itu berada di bawah, di bawah dan di bawahnya dan hukumnya fardlu kifayah. Bukan harus apalagi wajib apalagi diutamakan diatas ilmu-ilmu lain.
MUSLIMIN INDONESIA
(Penulis: Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed)
(Dimulai dengan Khutbatul Haajjah)
Alhamdulillah, ama ba’du
Ikhwani fiddin a’azakumullah,
Disini ada pertanyaan yang berkaitan dengan fitnah Sururiyyah. Dan berkaitan pula dengan tokoh-tokohnya dan orang-orangnya. Ditanyakan disini dari mulaiABU QATADAH (Da'i Al Sofwah Jakarta, red),ABU HAIDAR (As Sunnah, Bandung, red),YAZID JAWWAS (rekan Abdul Hakim Abdat, da'i Al Sofwah/Al Haramain, red),ABU NIDA' (At Turots, Jogjakarta red),
AUNUROFIQ GUFRON (Ma'had Al Furqan, Gresik, red), YUSUF BAI’SA (Ma'had Al Irsyad,
Tengaran, Salatiga, red),ABDURRAHMAN ABDUL KHOLIQ, AINUL HARITS, ARIFIN,
ABDUL HAKIM ABDAT (da'i Al Haramain/Al Sofwah), dan lain-lainnya. dan kemudian
ditanyakan pulaAL-SOFWA, AT TUROTS, AL IRSYAD, dan lain-lain.
Tentunya lebih tepat kalau saya jawab dari belakang dulu, dari organisasinya dulu, dan lebih bagus lagi kalau saya menerangkan pada antum tentang fikrohnya dulu, ya’ni fikroh Sururiyyah dulu . Ya’ni Sururiyyah berasal dari kata Surur atau dari namaMUHAMMAD SURUR NAYIF
ZAINAL ABIDIN. Muhammad Surur adalah seorang yang tadinya Ikhwanul Muslimin (IM),
kemudian dia keluar dari IM, dan kemudian mengaku Salafy. Orang yang sejenis Muhammad Surur ini banyak, sepertiABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ itupun dari IM kemudian keluar dan kemudian mensyiarkan dirinya sebagai Salafy. Atau mengaku Salafy.
Orang-orang jenis ini mereka keluar Ikhwanul Muslimin dari Harokah IM, atau partai politik IM atau keluar dari kelompok firqoh IM, dan menyatakan taubat dari IM, dan menyatakan taubat "saya keluar dan saya taubat" seperti juga Muhammad Quthub itu juga mengaku keluar dan kembali kepada Salaf , tetapi dalam perjalanan mereka yang katanya mau kembali kepada Salaf, ternyata masih memiliki fikroh Ikhwaniyyah. Fikrohnya Ikhwanul Muslimin atau prinsip cara berfikir Ikhwanul Muslimin. Yang tentunya kita harus tahu bahwasannya prinsip IM ini berarti atau prinsip Sururiyyah ini berari sama dengan prinsip IM sesungguhnya, hanya beda istilah saja.
Apa yang dikatakan oleh para IM juga diucapkan pula oleh Sururiyyin, hakikatnya. Dengan cara dan bentuk istilah yang berbeda tapi intinya sama maka. Kalau begitu sururiyyah sama dengan ikhwaniyah dan kita perlu menerangkan tentang Ikhwanul Muslimin itu sendiri. Ikhwanul Muslimin, prinsip bid’ah mereka yang menjadikan mereka menjadi kelompok sempalan yang keluar dari Ahlus Sunnah adalah karena mereka memiliki prinsip“NATA’AWAN FIMA
TAFAKNA WA NA’DZIRU BA’DINA BA’DON FI MAKHTALAFNA”kata mereka "kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda".
Ini prinsipnya IM, saya ulangi Nata’awan fima tafakna, "Kita saling kerja sama saling bantu membantu dalam apa yang kita sama, kita sepakati dan kita memaklumi hormat menghormati, dengan apa yang kita berbeda". Dengan prinsip ini IM tidak menganggap ada ahlil bid’ah sama sekali, semuanya kawan tidak ada lawan. "Ahlil bid’ah mereka sama-sama sholat dengan kita, maka kita tolong menolong dalam apa yang kita sepakati, mereka sama-sama…" pokoknya apa yang kita sama kita kerja sama, ini IM. SehinggaHASAN AL-BANNA, AT-TUROBI, dan sekian banyak tokoh-tokoh mereka selalu berusaha menggabungkan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan mereka mengatakan yel-yel Laa Syarqiyyah, Laa Gharbiyyah, Laa Sunniy, wa Laa Syi’ah, Islamiyyah, Islamiyyah, itu yel-yel yang selalu mereka dengungkan anasid dengan sair, dengan nyanyi dengan ikrar, "Tidak timur tidak barat tidak Sunni tidak Syi’ah yang penting Islam" kata mereka ini prinsip mereka kemudian ditebarkan pada masyarakat. "Kalian jangan ribut terus sudahlah jangan saling menyalah-nyalahkan, semuanya apakah dia Salaf apakah dia Sufi, apakah dia Mu’tazili, Syiah, semua itu saudara, semua Muslimin. Apa yang kita sama kita tolong menolong dan apa yang kita beda, kita hormat-menghormati", katanya begitu .Ini sepintas kilas perkaranya agak masuk akal, "Iya ya, kalau nggak gini gak akan bersatu", sepintas kilas kalau kalau dipikir akal saja.
Padahal kata para ulama prinsip ini akan meruntuhkan agama secara keseluruhan dan prinsip ini menggugurkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. [ketika kamu] mau mengingkari kebid’ahan, [mereka katakan: ] “ ...jangan ya akhi kita harus saling menghormati, kita jangan menyalahkan mereka", begitu, sehingga tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Dan berarti membolehkan manusia berjalan di jalan bid’ah manapun, ini sudah jelas sesatnya. Sehingga di dalam Ikhwanul Muslimin Jangan kamu kira mereka sama statusnya, fikirannya, aqidahnya.
Di kalangan IM ada Sufi, Syi’ah,ada semua ahli bid’ah kecuali Salafy. Kenapa? Yang (katanya) Salafy dalam masalah Aqidahnyapun prinsipnya tetap prinsip ikhwan. PRINSIP AQIDAHNYA YANG KATANYA SALAFY, TETAPI TETAP MENGHORMATI AHLUL BID’AH. DAN TERNYATA INI ADALAH YANG NAMANYA SURURIYYIN. Dalam AQIDAH KATANYA MEMPELAJARI AQIDAH SALAF, KATANYA, TETAPI PRINSIPNYA SAMA, SESAMA AHLUL BID’AHPUN HARUS SALING MENGHORMATI DAN SEBAGAINYA. INI PRINSIP UTAMANYA.
Namun sekarang ketika orang-orang yang dulunya keluar dari IM tadi apakah Muhammad Surur apakah Abdurrahman Abdul Kholiq apaMUHAMMAD QUTHB dan menyatakan "IM itu salah, IM itu sesat kami kembali kepada salaf", ternyata mereka mengajarkan aqidah Salaf, mengajarkan aqidah salaf sehingga sama dengan Salafiyin, tetapi mereka tetap mengatakan bahwa Ahlul bid’ah juga punya kebaikan, jadi jangan dimusuhi 100 persen, mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja. Nah ini lihat, kalimat "mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja" itu sesungguhnya terjemahan dari apa yang dikatakan Ikhwanul Muslimin, yaitu saling hormat-menghormati, inilah yang akhirnya menjadi masalah. Akhirnya segala macam orang-orang yang keluar dari IM yang dielu-elukan taubat masya Allah, sebagai seorang Salafy sekarang. Ternyata warnanya kok lama kelamaan agak berbeda kok aneh, kok agak beda, ketika tambah jauh, tambah kelihatan berpisahnya antara para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafiyun dengan tokoh-tokoh mereka. Agak berbeda, terus begitu, kemudian dalam masalah sikap pemerintah juga berbeda, dalam masalah politik juga berbeda, mereka sama seperti IM.
Sekali lagi sama, Cuma istilah-istilahnya yang berbeda. Mereka mengatakan pentingnya Tsaqofah Islamiyyah, ini Ikhwanul Muslimin. Tsaqofah Islamiyah adalah wawasan.kata Ikhwanul Muslimin "Kita jangan terpaku dengan Quran Sunnah saja, tetapi tidak mengerti situasi dan kondisi politik yang ada, kita harus ikut menyaksikan kondisi politik sepaya kita bisa bersikap supaya kita bisa berjuang dengan jihad politik", katanya. Itu IM, terang-terangan mengatakan jihad politik. Makanya banyak istilah-istilah yang dipakai oleh para politikus sekarang ini, ada jihad politik, ada apa segala macem itu, itu karena diantaranya mereka banyak terbawa dengan tokoh-tokoh IM di dalam partai Keadilan dan sejenisnya. Kemudian mereka yang telah keluar dari IM, ternyata fikroh-fikroh itu masih ada, tetapi istilahnya agak ganti dengan bahasa Fiqhul Waqi’.SALMAN AUDAH, A’iDH AL QORNI, kemudian siapa lagi … Muhammad Surur dan sebagainya semuanya mengelu-elukan “Jangan kita selalu kitab-sunnah,kitab sunnah tetapi tidak memperhatikan lingkungan kita, lingkungan situasi-kondisi kita tidak tahu, kita harus tahu, kita harus belajar satu ilmu namanya Fiqhul Waqi’, memahami kenyataan yang terjadi". Sama toh dengan yang tadi? Kalau tadi dengan istilah Tsaqofah, sekarang dengan istilah fiqhul waqi. Abdurrahman Abdul Khaliq ketika Fiqhul Waqi’nya dibahas oleh para Ulama, lain lagi dia istilahnya bukan Fiqhul Waqi’, tetapi setali tiga uang, persis.
Kata Abdurrahman Abdul Kholiq, "Kita dalam memahami, dalam berda’wah ini selain ini, kita harus punya Shifatul ‘Asr". Ini istilahnya Abdurrahman Abdul Kholiq. Apa Shifatul ‘Ashr?, Al Ashriyah dengan gaya bahasa dia bilang "Ashriye, kita harus tahu Al Ashriye", yakni "keadaan kondisi situasi politik yang ada", begitu, sama ternyata. Dan ingat bukan berarti Ahlussunnah wal jamaah dan para Ulamanya menentang perlunya Fiqhul Waqi’ atau Tsaqofah atau shifatul Ashr bukan menolak perlunya. Perlu tetapi itu berada di bawah, di bawah dan di bawahnya dan hukumnya fardlu kifayah. Bukan harus apalagi wajib apalagi diutamakan diatas ilmu-ilmu lain.
SIKAP A’IMMAH AHLUS SUNNAH TERHADAP PARA PENDUSTA AGAMA
Menyoroti Kiprah Dakwah Ihya’ At-Turots dkk di Indonesia – Update 22/02/2007
115
BAB IV
SIKAP A’IMMAH AHLUS SUNNAH
TERHADAP PARA PENDUSTA AGAMA
Ibnul JauziRahimahullah berkata :
“Termasuk kesalahan ucapan ahli zuhud –ketika mendengar celaan terhadap para pendusta- yaitu : “Ini adalah ghibah”. Sesungguhnya perkara ini adalah nasehat untuk Islam, karena khabar atau hadits terkadang mengandung kejujuran dan kadang berisi kedustaan, maka keadaan para perawi harus benar-benar diperhatikan”.
Yahya bin Sa’idRahimahullah berkata :
“Aku bertanya kepada Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah dan Sufyan bin Uyainah tentang seseorang yang berdusta atau bingung dalam periwayatan haditsnya, apakah saya menerangkan keadaannya?” Mereka mengatakan :”Ya…terangkan keadaannya kepada kaum Muslimin”.
Syu’bahRahimahullah berkata :
“Kemarilah kalian, kita mengghibah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla”.
Ditanyakan kepada Beliau tentang menahan diri (untuk tidak membicarakan) Aban (nama seorang perawi-pen), maka Beliau menjawab:” Tidak halal menahan diri untuk membicarakannya karena ini adalah perkara agama”.
Ibnu MahdiRahimahullah berkata :
“Aku berjalan bersama Sufyan Ats-Tsauri melewati seseorang, Sufyan mengatakan: “Pendusta. Demi Allah karena dialah tidak dihalalkan diam bagiku, andai saja tidak demikian pastilah aku akan diam”.
Imam Asy-Syafi’iRahimahullah berkata :
“Jika seseorang diketahui ucapannya adalah dusta, maka tidak diperkenankan diam darinya dan itu bukanlah termasuk ghibah, sebagaimana para ulama ahli naqd tidak memberikan peluang kepada seorang perawi yang dijarh agamanya dalam rangka menerangkan kepalsuan yang ada atau selainnya”(Al-Maudhu’at, hal.50).
Saya (Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-MadkhaliHafidhahullah) mengatakan :
“Ini adalah alasan yang benar. Barangsiapa telah menempuh jalan mereka dalam melayani dan membela sunnah tatkala memuji orang yang berhak dipuji dan mencela orang yang berhak dicela, melawan, mempermalukan, mengungkap aurat serta membantah kebathilan ahli bid’ah dengan kebenaran dan ilmu, maka dia termasuk golongan mereka (para ulama-pen).
Dan barangsiapa menyelisihi para ulama dalam manhaj ini atau bahkan memusuhi serta melawan orang-orang yang mengikuti mereka kemudian loyal kepada orang-orang yang menyimpang, sesat, ahli bid’ah dan penipu, serta membela mereka mati-matian lagi bermain-main dengan akal orang-orang jahil dari kalangan manusia rendahan, mereka membingungkan umat dengan kedustaan, kepalsuan, tipuan dan kemaksiatan, sesungguhnya orang yang demikian keadaannya bukanlah dari golongan ahli sunnah dan pengikutnya”
(Al-Mahajjatu Al-Baidha’, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-MadkhaliHafidhahullah, diterjemahkan
dengan judul Obyektifitas dalam Mengkritik, Cahaya Tauhid Press, Malang, hal.137-139)
Ini adalah petir hujjah Ahlus Sunnah terhadap para penyesat, penyimpang dan pendusta!! Maka sungguh suatu upaya penyesatan dan talbis dari golongan Hizbiyyin-Sururiyyin- Ikhwaniyyin-Surkatiyyin ketika menyelewengkan ceramah Syaikh Rabi’Hafidhahullah sebagai legalitas untuk menuntut Ahlus Sunnah berbuat “rifqan” dan “mawaddah” terhadap kesesatan Hizbiyyin dan petinggi-petingginya dengan berbagai manuver Hizbiyyah-Ikhwaniyyahnya!!
115
BAB IV
SIKAP A’IMMAH AHLUS SUNNAH
TERHADAP PARA PENDUSTA AGAMA
Ibnul JauziRahimahullah berkata :
“Termasuk kesalahan ucapan ahli zuhud –ketika mendengar celaan terhadap para pendusta- yaitu : “Ini adalah ghibah”. Sesungguhnya perkara ini adalah nasehat untuk Islam, karena khabar atau hadits terkadang mengandung kejujuran dan kadang berisi kedustaan, maka keadaan para perawi harus benar-benar diperhatikan”.
Yahya bin Sa’idRahimahullah berkata :
“Aku bertanya kepada Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah dan Sufyan bin Uyainah tentang seseorang yang berdusta atau bingung dalam periwayatan haditsnya, apakah saya menerangkan keadaannya?” Mereka mengatakan :”Ya…terangkan keadaannya kepada kaum Muslimin”.
Syu’bahRahimahullah berkata :
“Kemarilah kalian, kita mengghibah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla”.
Ditanyakan kepada Beliau tentang menahan diri (untuk tidak membicarakan) Aban (nama seorang perawi-pen), maka Beliau menjawab:” Tidak halal menahan diri untuk membicarakannya karena ini adalah perkara agama”.
Ibnu MahdiRahimahullah berkata :
“Aku berjalan bersama Sufyan Ats-Tsauri melewati seseorang, Sufyan mengatakan: “Pendusta. Demi Allah karena dialah tidak dihalalkan diam bagiku, andai saja tidak demikian pastilah aku akan diam”.
Imam Asy-Syafi’iRahimahullah berkata :
“Jika seseorang diketahui ucapannya adalah dusta, maka tidak diperkenankan diam darinya dan itu bukanlah termasuk ghibah, sebagaimana para ulama ahli naqd tidak memberikan peluang kepada seorang perawi yang dijarh agamanya dalam rangka menerangkan kepalsuan yang ada atau selainnya”(Al-Maudhu’at, hal.50).
Saya (Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-MadkhaliHafidhahullah) mengatakan :
“Ini adalah alasan yang benar. Barangsiapa telah menempuh jalan mereka dalam melayani dan membela sunnah tatkala memuji orang yang berhak dipuji dan mencela orang yang berhak dicela, melawan, mempermalukan, mengungkap aurat serta membantah kebathilan ahli bid’ah dengan kebenaran dan ilmu, maka dia termasuk golongan mereka (para ulama-pen).
Dan barangsiapa menyelisihi para ulama dalam manhaj ini atau bahkan memusuhi serta melawan orang-orang yang mengikuti mereka kemudian loyal kepada orang-orang yang menyimpang, sesat, ahli bid’ah dan penipu, serta membela mereka mati-matian lagi bermain-main dengan akal orang-orang jahil dari kalangan manusia rendahan, mereka membingungkan umat dengan kedustaan, kepalsuan, tipuan dan kemaksiatan, sesungguhnya orang yang demikian keadaannya bukanlah dari golongan ahli sunnah dan pengikutnya”
(Al-Mahajjatu Al-Baidha’, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-MadkhaliHafidhahullah, diterjemahkan
dengan judul Obyektifitas dalam Mengkritik, Cahaya Tauhid Press, Malang, hal.137-139)
Ini adalah petir hujjah Ahlus Sunnah terhadap para penyesat, penyimpang dan pendusta!! Maka sungguh suatu upaya penyesatan dan talbis dari golongan Hizbiyyin-Sururiyyin- Ikhwaniyyin-Surkatiyyin ketika menyelewengkan ceramah Syaikh Rabi’Hafidhahullah sebagai legalitas untuk menuntut Ahlus Sunnah berbuat “rifqan” dan “mawaddah” terhadap kesesatan Hizbiyyin dan petinggi-petingginya dengan berbagai manuver Hizbiyyah-Ikhwaniyyahnya!!
NASEHAT DAN PERINGATAN MASYAYIKH SALAFIYYIN
Menyoroti Kiprah Dakwah Ihya’ At-Turots dkk di Indonesia – Update 22/02/2007
116
BAB V
NASEHAT DAN PERINGATAN
MASYAYIKH SALAFIYYIN
Pertanyaan kepada Fadhilatusy-Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
(Anggota Ha’iah Kibar Ulama dan Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ Saudi Arabia):
“Baiklah wahai Syaikh, apakah engkau mentahdzir (memperingatkan kepada umat Islam atas bahaya pemikiran seseorang atau kelompok-pen) mereka tanpa menyebutkan kebaikan- kebaikan mereka? Atau menyebutkan kebaikan sekaligus menerangkan kejelekannya?”
Jawab :
“Jika engkau sebutkan kebaikan mereka, jangan…..jangan…., jangan kamu sebutkan,
sebutkan saja kesalahan yang ada pada mereka. KarenaBUKAN MENJADI
KEWAJIBANMU MEMPELAJARI SELURUH KEADAAN MEREKA. YANG WAJIB ATAS ENGKAU IALAH MENERANGKAN KESALAHAN YANG ADA PADA MEREKA AGAR MEREKA MAU BERTAUBAT DARI KESALAHAN. JUGA DEMI MEMPERINGATKAN ORANG LAIN DARI KESALAHAN YANG MEREKA TERJATUH DI DALAMNYA.A dap un
jika kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, maka mereka akan mengatakan :”Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, inilah yang kami harapkan…” (dari kaset rekaman sesi ketiga pelajaran Kitab At-Tauhid yang disampaikan oleh Syaikh di musim panas tahun 1413H di Thaif dalam kitab Al-Mahajjatu Al-Baidha’ karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al- MadkhaliHafidhahullah)
Pertanyaan kepada Fadhilatusy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad Al-Abbad
Al-BadrHafidhahullah:
“Apakah termasuk dari manhaj Salaf, jika saya mengkritik ahli bid’ah untuk memperingatkan umat dari kesesatannya, kemudian wajib bagi saya untuk menyebutkan kebaikan- kebaikannya agar saya tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang mendzaliminya?
Beliau menjawab :
“Tidak…….tidak wajib. Ketika engkau memperingatkan umat dari perbuatan bid’ah seseorang, maka sebutkanlah kebid’ahan orang tersebut dan peringatkan kaum Muslimin darinya, inilah yang dituntut. Tidak mesti mengumpulkan kebaikannya lalu kamu sebutkan. Cukup bagimu menyebutkan kebid’ahannya saja dan memperingatkan umat darinya agar mereka tidak tertipu dengannya”(ibid).
Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iyRahimahullah :
Para Hizbiyyun ini (Sururiyyun) menggunakan tazkiyah untuk menipu (umat) manusia”
Ketika saya (Ust. Muhammad As-Sewed-pen) bertanya tentang Al-Muntada (berganti nama
menjadi Al-Sofwah) maka Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-MadkhaliHafidhahullah menjawab:
“KALAU MEMANG YAYASAN TERSEBUT SAMA DENGAN AL-MUNTADA YANG BERADA DI LONDON, MAKA LIHAT SAJA, IA AKAN MENJADI MUSUH PALING UTAMA DAKWAH SALAFIYYAH DI INDONESIA!”
Syaikh Abu Yasir Khalid Ar-RaddadiHafidhahullah (Muhaqqiq Kitab Syarhus Sunnah Al-
Imam Al-BarbahariRahimahullah) :
“…Dan diantaranya saya menjelaskan tentang kerusakan-kerusakan At-Turots dan manhaj
Al-Jama’ah organisasinya dan yang lainnya…”
“…dan orang-orang Ihya’ut Turots menghadirkan seorang lelaki lain yang bermadzhab rafidhah yang mencela dan menghina Shahabat. Dan banyak dalil-dalil yang lain yang menunjukkan bahwa lembaga ini adalah lembaga Hizbiyyah yang membantu dan menolong Hizbiyyun”
Demikianlah, ketika bukti-bukti kejahatan Hizbiyyahnya tidak bisa ditutupi dan dimanipulasi lagi,
maka kedustaanlah yang menjadi manhaj dakwahnya!! (Naudzubillah)
Dedengkot Hizby tlah beraksi
Ranjau dusta (Abdurrahman) At-Tamimi meledak di markaz Al-Albani
Serdadu hizby “salahfee” tlah bergerak melindungi
Wisma Erni menjadi saksi
Akankah Salafy berdiam diri ?
Hanya mematung …membatu ….dan membisu ?
Duduk manis menyaksikan semua kolaborasi dan konspirasi Hizbiyyah ini?
Tidak!!! Itulah jawaban yang pasti.
116
BAB V
NASEHAT DAN PERINGATAN
MASYAYIKH SALAFIYYIN
Pertanyaan kepada Fadhilatusy-Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
(Anggota Ha’iah Kibar Ulama dan Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ Saudi Arabia):
“Baiklah wahai Syaikh, apakah engkau mentahdzir (memperingatkan kepada umat Islam atas bahaya pemikiran seseorang atau kelompok-pen) mereka tanpa menyebutkan kebaikan- kebaikan mereka? Atau menyebutkan kebaikan sekaligus menerangkan kejelekannya?”
Jawab :
“Jika engkau sebutkan kebaikan mereka, jangan…..jangan…., jangan kamu sebutkan,
sebutkan saja kesalahan yang ada pada mereka. KarenaBUKAN MENJADI
KEWAJIBANMU MEMPELAJARI SELURUH KEADAAN MEREKA. YANG WAJIB ATAS ENGKAU IALAH MENERANGKAN KESALAHAN YANG ADA PADA MEREKA AGAR MEREKA MAU BERTAUBAT DARI KESALAHAN. JUGA DEMI MEMPERINGATKAN ORANG LAIN DARI KESALAHAN YANG MEREKA TERJATUH DI DALAMNYA.A dap un
jika kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, maka mereka akan mengatakan :”Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, inilah yang kami harapkan…” (dari kaset rekaman sesi ketiga pelajaran Kitab At-Tauhid yang disampaikan oleh Syaikh di musim panas tahun 1413H di Thaif dalam kitab Al-Mahajjatu Al-Baidha’ karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al- MadkhaliHafidhahullah)
Pertanyaan kepada Fadhilatusy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad Al-Abbad
Al-BadrHafidhahullah:
“Apakah termasuk dari manhaj Salaf, jika saya mengkritik ahli bid’ah untuk memperingatkan umat dari kesesatannya, kemudian wajib bagi saya untuk menyebutkan kebaikan- kebaikannya agar saya tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang mendzaliminya?
Beliau menjawab :
“Tidak…….tidak wajib. Ketika engkau memperingatkan umat dari perbuatan bid’ah seseorang, maka sebutkanlah kebid’ahan orang tersebut dan peringatkan kaum Muslimin darinya, inilah yang dituntut. Tidak mesti mengumpulkan kebaikannya lalu kamu sebutkan. Cukup bagimu menyebutkan kebid’ahannya saja dan memperingatkan umat darinya agar mereka tidak tertipu dengannya”(ibid).
Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iyRahimahullah :
Para Hizbiyyun ini (Sururiyyun) menggunakan tazkiyah untuk menipu (umat) manusia”
Ketika saya (Ust. Muhammad As-Sewed-pen) bertanya tentang Al-Muntada (berganti nama
menjadi Al-Sofwah) maka Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-MadkhaliHafidhahullah menjawab:
“KALAU MEMANG YAYASAN TERSEBUT SAMA DENGAN AL-MUNTADA YANG BERADA DI LONDON, MAKA LIHAT SAJA, IA AKAN MENJADI MUSUH PALING UTAMA DAKWAH SALAFIYYAH DI INDONESIA!”
Syaikh Abu Yasir Khalid Ar-RaddadiHafidhahullah (Muhaqqiq Kitab Syarhus Sunnah Al-
Imam Al-BarbahariRahimahullah) :
“…Dan diantaranya saya menjelaskan tentang kerusakan-kerusakan At-Turots dan manhaj
Al-Jama’ah organisasinya dan yang lainnya…”
“…dan orang-orang Ihya’ut Turots menghadirkan seorang lelaki lain yang bermadzhab rafidhah yang mencela dan menghina Shahabat. Dan banyak dalil-dalil yang lain yang menunjukkan bahwa lembaga ini adalah lembaga Hizbiyyah yang membantu dan menolong Hizbiyyun”
Demikianlah, ketika bukti-bukti kejahatan Hizbiyyahnya tidak bisa ditutupi dan dimanipulasi lagi,
maka kedustaanlah yang menjadi manhaj dakwahnya!! (Naudzubillah)
Dedengkot Hizby tlah beraksi
Ranjau dusta (Abdurrahman) At-Tamimi meledak di markaz Al-Albani
Serdadu hizby “salahfee” tlah bergerak melindungi
Wisma Erni menjadi saksi
Akankah Salafy berdiam diri ?
Hanya mematung …membatu ….dan membisu ?
Duduk manis menyaksikan semua kolaborasi dan konspirasi Hizbiyyah ini?
Tidak!!! Itulah jawaban yang pasti.
Witir (Ganjil)
Dulu saya sering mendengar penyampai mengumandangkan dalil; Innallaha witr yuhibbu witr – Sesungguhnya Allah itu ganjil dan senang dengan yang ganjil (Rowahu Bukhori, Muslim dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya dari Abu Huroiroh), untuk mendasari mengucap salam lebih dari 1 kali dan menjadikannya 3 kali. Sekarang rasanya jarang mendengar dalil itu lagi. Sudah terbiasa atau emang jarang digunakan lagi. Memang dalam kehidupan ini hampir semua hitungan yang dijadikan sebagai aturan jumlahnya ganjil. Contohnya jumlah rekaat sholat sehari - semalam 17 rekaat, tarawih 11 rekaat, hitungan wudhu yang paling disenangi/sempurna juga 3 kali – 3 kali, mau istinja jumlah batunya juga ganjil, 3, 5, dst. Sampai kita kenal angka 313, sebutan 7 langit dan malam ganjil untuk mencari pahala lailatul qodar. Itu mungkin deskripsi witir dalam kehidupan nyata ini. Lupakan itu semua, yang ingin saya ketengahkan kali ini adalah masalah sholat witir. Ada apa dengannya?
Sebenarnya tak ada apa – apa, saya hanya penasaran, kenapa sih saya tidak bisa melakukan sholat witir? Kenapa hanya di bulan puasa saja tertib witirnya? Di bulan yang lain kok tidak tertib? Dan saya sudah berusaha 3 tahun terakhir ini untuk bisa menjalankan salah satu sunnah tersebut. Hasilnya masih juga bolong – bolong. Berbagai kiat dan giat sudah dilakukan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan melakukan sholat witir sebelum tidur. Itu yang saya mampu. Itu yang saya bisa. Mungkin kadang terlihat aneh, sore – sore kok witir. Habis mau bangun malam kadang kebablasan. Sejujurnya bukan kadang – tetapi banyak bablasnya ketimbang bangunnya sehingga gak witir. Niat sih ada terus, tapi apakah hidup ini cukup dengan niat saja? He, he, he,,,,lha da lah,,,,,,…
Dulu Pak ustad di kampung saya memberikan wejangan - tip yang sederhana dan ciamik. Dia bilang, “Untuk melatih sholat witir, tambahkanlah sehabis sholat sunnah ba’da isya 1 rekaat saja.” Maka dulu kami pun ramai – ramai mengerjakannya sehabis sholat sunah ba’da isya. Sekian waktu berlalu dan semakin meluntur kegiatan itu, saya terpacu lagi untuk memulainya - sebagai bagian taqorrub ilallah dari hamba yang lemah ini. Semoga tidak terlambat.
Ya, ini memang sunah bukan wajib. Bahkan mungkin ada yang mencibirnya. Namun bagi saya adalah sebuah jalan besar menuju kecintaan kepada Allah. Di samping jalan lain yang mungkin orang tempuh. Sebab banyak jalan menuju keridhoan Allah, bukan hanya ke Roma saja.
Nah, bagi yang mau menempuh jalan sholat witir untuk mempertinggi derajat amalannya berikut beberapa dalil tentangnya.
Dari Ali ra., ia berkata, ‘Witir bukan keharusan seperti sholat wajib kalian, akan tetapi Rasulullah SAW biasa melakukannya, dan Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah witir, mencintai witir, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli qur’an.” (Rowahu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah)
Dari Jabir ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di awalnya, dan barangsiapa yakin akan bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di akhirnya, karena sholat diakhir malam disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat) dan itu lebih utama.” (Rowahu Muslim).
Dari Jabir ra., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ahli qur’an, berwitirlah kalian karena Allah adalah witir dan menyukai witir.” (Rowahu Abu Dawud).
Dari Abu Tamim al-Jaisyani, dia berkata, aku mendengar Amru bin al-Ash berkata, seorang lelaki memberitahukan kepadaku bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menambahkan satu sholat kepada kalian, maka tegakkanlah ia diantara isya dan shubuh, yaitu sholat witir”. (Rowahu Ahmad)
Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami)].
Dari Abu Darda’, dia berkata, “Kekasihku SAW mewasiatkan tiga perkara kepadaku, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup; yaitu puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan agar aku tidak tidur sebelum sholat witir.” (R. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Jadi, sekarang bukan hanya salam saja yang kita jangkepi witir. Sholat sunnah kita pun rasanya perlu juga diperjuangkan. Setidaknya dengan tip di atas. Sholat witir sehabis isya atau sebelum tidur. Silahkan dicoba. Kenapa tidak?
Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah
Sebenarnya tak ada apa – apa, saya hanya penasaran, kenapa sih saya tidak bisa melakukan sholat witir? Kenapa hanya di bulan puasa saja tertib witirnya? Di bulan yang lain kok tidak tertib? Dan saya sudah berusaha 3 tahun terakhir ini untuk bisa menjalankan salah satu sunnah tersebut. Hasilnya masih juga bolong – bolong. Berbagai kiat dan giat sudah dilakukan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan melakukan sholat witir sebelum tidur. Itu yang saya mampu. Itu yang saya bisa. Mungkin kadang terlihat aneh, sore – sore kok witir. Habis mau bangun malam kadang kebablasan. Sejujurnya bukan kadang – tetapi banyak bablasnya ketimbang bangunnya sehingga gak witir. Niat sih ada terus, tapi apakah hidup ini cukup dengan niat saja? He, he, he,,,,lha da lah,,,,,,…
Dulu Pak ustad di kampung saya memberikan wejangan - tip yang sederhana dan ciamik. Dia bilang, “Untuk melatih sholat witir, tambahkanlah sehabis sholat sunnah ba’da isya 1 rekaat saja.” Maka dulu kami pun ramai – ramai mengerjakannya sehabis sholat sunah ba’da isya. Sekian waktu berlalu dan semakin meluntur kegiatan itu, saya terpacu lagi untuk memulainya - sebagai bagian taqorrub ilallah dari hamba yang lemah ini. Semoga tidak terlambat.
Ya, ini memang sunah bukan wajib. Bahkan mungkin ada yang mencibirnya. Namun bagi saya adalah sebuah jalan besar menuju kecintaan kepada Allah. Di samping jalan lain yang mungkin orang tempuh. Sebab banyak jalan menuju keridhoan Allah, bukan hanya ke Roma saja.
Nah, bagi yang mau menempuh jalan sholat witir untuk mempertinggi derajat amalannya berikut beberapa dalil tentangnya.
Dari Ali ra., ia berkata, ‘Witir bukan keharusan seperti sholat wajib kalian, akan tetapi Rasulullah SAW biasa melakukannya, dan Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah witir, mencintai witir, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli qur’an.” (Rowahu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah)
Dari Jabir ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di awalnya, dan barangsiapa yakin akan bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di akhirnya, karena sholat diakhir malam disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat) dan itu lebih utama.” (Rowahu Muslim).
Dari Jabir ra., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ahli qur’an, berwitirlah kalian karena Allah adalah witir dan menyukai witir.” (Rowahu Abu Dawud).
Dari Abu Tamim al-Jaisyani, dia berkata, aku mendengar Amru bin al-Ash berkata, seorang lelaki memberitahukan kepadaku bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menambahkan satu sholat kepada kalian, maka tegakkanlah ia diantara isya dan shubuh, yaitu sholat witir”. (Rowahu Ahmad)
Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami)].
Dari Abu Darda’, dia berkata, “Kekasihku SAW mewasiatkan tiga perkara kepadaku, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup; yaitu puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan agar aku tidak tidur sebelum sholat witir.” (R. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Jadi, sekarang bukan hanya salam saja yang kita jangkepi witir. Sholat sunnah kita pun rasanya perlu juga diperjuangkan. Setidaknya dengan tip di atas. Sholat witir sehabis isya atau sebelum tidur. Silahkan dicoba. Kenapa tidak?
Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah
Senyum Dan Diam
Sebentar lagi, usia sudah mendekati kepala empat. Anak pun sudah empat. Berumah tangga sudah empat kuadrat alias 16 tahun. Banyak hal dan banyak pencapaian yang sudah saya dapatkan dalam kurun waktu itu. Dengan rasa syukur yang mendalam, kiranya inilah karunia terindah yang dianugerahkan Allah kepada saya. Tak berbanding dan tak tertandingi. Alhamdulillah, tak ada yang pantas terucap kecuali pujian itu. Tinggal bagaimana mengelolanya sehingga nikmat itu menjadi berkembang dan berdaya guna keberadaannya. Tidak hilang, tidak rusak, namun justru mengembang, berbuah, berbarokah. Netepi dalil lain syakartum – la’azidannakum.
Maka tatkala, saya ketemu dengan para yunior yang sekarang punya kedudukan dan posisi kunci, dengan kehidupan yang mapan, godaan mulai berdatangan. Obrolan pun berkembang pada arti hidup. Masih banyak orang yang mengukur pencapaian hidup dengan sebuah kedudukan. Makin tinggi kedudukan berarti semakin sukses. Semakin bermartabat, semakin berkelas. Mereka sering berkata, “Wah, seharusnya Mas ini sudah jadi manager. Apalagi usia sudah hampir kepala empat.” Menanggapi hal itu saya hanya tersenyum dan diam saja.
Lain lagi, godaan yang datang ketika saya ketemu dengan para senior. Secara tidak sengaja bincang – bincang pun mengarah pada ukuran kesuksesan hidup. Lain dengan para yunior yang masih banyak berlagak, para senior ini lebih bermutu, biasanya mereka bicara kesuksesan dari berbagai pandangan. Sebagian ada yang meneropong dari jenjang pendidikan. Secara tak sengaja mereka berseloroh, “Sudah rampung belum S3-nya?” Dengan polos dan lugunya, pernyataan itu saya balas dengan senyum dan diam saja.
Sebagian lagi ada yang memandang kesuksesan dari kaca mata kemandirian dan pemberdayaan. Mereka bilang, “Sekarang sudah usaha apa? Dan berapa orang pekerjanya?” Mendengar ucapan itu, saya pun tak kuasa, hanya tersenyum dan diam saja. Sebagain lainnya ada yang memandang kesuksesan hidup ini dari tingkat spiritualitasnya. Dengan enteng dan bangganya mereka berkata, “Sudah pergi ke Kulon belum?” Mendengar kalimat itu, saya pun hanya bisa tersenyum dan diam saja.
Lain lagi jika saya ketemu dengan para ustadz. Ketika mereka berbincang tentang al-ilmu, saya pun terdiam. Tatkala mereka bertanya, “Sudah sampai mana pencapaianmu?” Saya pun tersenyum menanggapinya. Banyak hal yang saya respon dengan senyum dan diam semata. Bukan karena mengiyakan atau menolak. Bukan pula membantah atau mendebat. Justru dengan tersenyum dan diam itulah, saya bisa melihat wajah nyata kehidupan dengan apa adanya. Semakin menenteramkan hati. Mempraktekkan panjangnya diam. Menerampilkan sodakoh senyuman. Dan menambah kedalaman syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya.
Ternyata dengan banyak senyum dan diam, semakin terkuak rahasia – rahasia hidup ini. Maksud – maksud yang tak terungkap, terkadang bisa tertangkap dengan sikap diam ini. Orang yang mau pamer, orang yang pengin dihormati, orang yang berniat baik, orang yang mau berbuat tidak baik, semua terekam dalam diam - sunyi dan senyum ini.
Pun halnya dengan diri sendiri. Dengan senyum dan diam, ternyata mampu mengobsesi diri menjadi lebih baik dan baik. Punya kekuatan dahsyat untuk berbuat baik untuk sesama dan sekitarnya. Memperbaiki diri dan terus berusaha baik selalu. Begitu elok ketika jiwa dan raga menyatu dalam kesatuan nuansa diam dan tersenyum ini. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Rowahu Bukhory (5672), Muslim dalam bab al-Luqothoh (14), Abu Dawud (91), An-Nasa’i (401) At-Tirmidzi (809)). Dan firman Allah:”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” An-Nisaa : 114.
Maka, saya pun malu sejatinya, jika harus menjawab setiap pertanyaan itu semua - apalagi dengan maksud mengimbangi lawan bicara. Sebab bagi saya firman Allah dalam Surat Ali Imron 139 sudah mencukupinya. Allah berfirman, “Janganlah kamu merasa hina, dan janganlah kamu bersedih hati, sejatinya kamulah orang-orang yang paling mulia, jika kamu menjadi orang-orang yang beriman.” Apalagi yang mau dicari?
Tatkala kita sudah merasa berada di puncak, kemudian sekeliling kita ramai menawarkan dan membicarakan hal – hal yang banyak, berteriak, adakalanya baik dan kebanyakan angin lalu semata, tak lain sikap yang relevan adalah memberinya senyum dan diam saja. Sebab kalau direspon tak bakal cukup waktu. Tak bakal rampung urusannya. Termasuk ketika ada yang bertanya, “Sekarang istrinya sudah berapa?” Saya pun menoleh, menatap sang penanya, kemudian tersenyum dan diam saja.
Maka tatkala, saya ketemu dengan para yunior yang sekarang punya kedudukan dan posisi kunci, dengan kehidupan yang mapan, godaan mulai berdatangan. Obrolan pun berkembang pada arti hidup. Masih banyak orang yang mengukur pencapaian hidup dengan sebuah kedudukan. Makin tinggi kedudukan berarti semakin sukses. Semakin bermartabat, semakin berkelas. Mereka sering berkata, “Wah, seharusnya Mas ini sudah jadi manager. Apalagi usia sudah hampir kepala empat.” Menanggapi hal itu saya hanya tersenyum dan diam saja.
Lain lagi, godaan yang datang ketika saya ketemu dengan para senior. Secara tidak sengaja bincang – bincang pun mengarah pada ukuran kesuksesan hidup. Lain dengan para yunior yang masih banyak berlagak, para senior ini lebih bermutu, biasanya mereka bicara kesuksesan dari berbagai pandangan. Sebagian ada yang meneropong dari jenjang pendidikan. Secara tak sengaja mereka berseloroh, “Sudah rampung belum S3-nya?” Dengan polos dan lugunya, pernyataan itu saya balas dengan senyum dan diam saja.
Sebagian lagi ada yang memandang kesuksesan dari kaca mata kemandirian dan pemberdayaan. Mereka bilang, “Sekarang sudah usaha apa? Dan berapa orang pekerjanya?” Mendengar ucapan itu, saya pun tak kuasa, hanya tersenyum dan diam saja. Sebagain lainnya ada yang memandang kesuksesan hidup ini dari tingkat spiritualitasnya. Dengan enteng dan bangganya mereka berkata, “Sudah pergi ke Kulon belum?” Mendengar kalimat itu, saya pun hanya bisa tersenyum dan diam saja.
Lain lagi jika saya ketemu dengan para ustadz. Ketika mereka berbincang tentang al-ilmu, saya pun terdiam. Tatkala mereka bertanya, “Sudah sampai mana pencapaianmu?” Saya pun tersenyum menanggapinya. Banyak hal yang saya respon dengan senyum dan diam semata. Bukan karena mengiyakan atau menolak. Bukan pula membantah atau mendebat. Justru dengan tersenyum dan diam itulah, saya bisa melihat wajah nyata kehidupan dengan apa adanya. Semakin menenteramkan hati. Mempraktekkan panjangnya diam. Menerampilkan sodakoh senyuman. Dan menambah kedalaman syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya.
Ternyata dengan banyak senyum dan diam, semakin terkuak rahasia – rahasia hidup ini. Maksud – maksud yang tak terungkap, terkadang bisa tertangkap dengan sikap diam ini. Orang yang mau pamer, orang yang pengin dihormati, orang yang berniat baik, orang yang mau berbuat tidak baik, semua terekam dalam diam - sunyi dan senyum ini.
Pun halnya dengan diri sendiri. Dengan senyum dan diam, ternyata mampu mengobsesi diri menjadi lebih baik dan baik. Punya kekuatan dahsyat untuk berbuat baik untuk sesama dan sekitarnya. Memperbaiki diri dan terus berusaha baik selalu. Begitu elok ketika jiwa dan raga menyatu dalam kesatuan nuansa diam dan tersenyum ini. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Rowahu Bukhory (5672), Muslim dalam bab al-Luqothoh (14), Abu Dawud (91), An-Nasa’i (401) At-Tirmidzi (809)). Dan firman Allah:”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” An-Nisaa : 114.
Maka, saya pun malu sejatinya, jika harus menjawab setiap pertanyaan itu semua - apalagi dengan maksud mengimbangi lawan bicara. Sebab bagi saya firman Allah dalam Surat Ali Imron 139 sudah mencukupinya. Allah berfirman, “Janganlah kamu merasa hina, dan janganlah kamu bersedih hati, sejatinya kamulah orang-orang yang paling mulia, jika kamu menjadi orang-orang yang beriman.” Apalagi yang mau dicari?
Tatkala kita sudah merasa berada di puncak, kemudian sekeliling kita ramai menawarkan dan membicarakan hal – hal yang banyak, berteriak, adakalanya baik dan kebanyakan angin lalu semata, tak lain sikap yang relevan adalah memberinya senyum dan diam saja. Sebab kalau direspon tak bakal cukup waktu. Tak bakal rampung urusannya. Termasuk ketika ada yang bertanya, “Sekarang istrinya sudah berapa?” Saya pun menoleh, menatap sang penanya, kemudian tersenyum dan diam saja.
Rabu, 12 Januari 2011
Pengertian Manqul, Musnad, Mutashil dan Ro'yi
Sesuai dengan judul di atas dalam PEMAPARAN dibawah ini akan dipaparkan pokok-pokok perbahasan yang meliputi:-
1) Pengartian Manqul, Musnad, Muttashil dan Ro’yi
2) Wajibnya Manqul dan Haramnya Ro’yi
3) Utamanya/tinggi Ilmu Manqul, Musnad, Muttashil
1. PENGARTIAN MANQUL, MUSNAD, MUTTASHIL DAN RO’YI
1.1 MANQUL
Manqul itu bahasa arab berasal dari kata Naqola. Manqul secara harfiyah artinya yang dipindahkan. Adapun arti menurut agama Islam adalah belajar mengaji Quran dan Hadis dengan cara berguru atau ilmu Quran dan Hadis yang dimiliki oleh seseorang itu diperoleh melalui proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Adapun sistem manqul
ada beberapa macam cara antara lain:-
a) Guru yang membacakan ilmu, murid mendengarkan.
b) Guru sedang mengajar ilmu kepada muridnya kemudian ada orang lain mendengarkannya.
c) Dengan sistem munawalah yaitu guru memberi hak/persetujuan kepada muridnya yang dipandang sudah menguasai ilmu manqul untuk mengerjakan dan mengajarkan ilmu tersebut atau guru berkirim surat yang berisi Al Quran dan atau Hadis kepada muridnya tentang suatu masalah lalu murid membaca dan melaksanakannya.
1.2 MUSNAD
Musnad artinya ilmu yang diberikan itu mempunyai sanad/isnad yang sahih, hasan, dll. Sanad/isnad (berasal dari kata asnada) artinya sandaran, tempat bersandar. Maksudnya mengajarkan (membaca, memberi makna dan menerangkan) Al Quran dan Hadis dengan sandaran guru yang mengajarkan kepadanya, gurunya dari gurunya lagi dan seterusnya. dengan metode demikian maka akan terlihat mana2 riwayat tingkatan keotentikan suatu hadits, seperti: sahih, hasan, dhoif dll.
1.3 MUTTASHIL
Muttashil artinya bahwa masing-masing sanad/isnad itu bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Jadi manqul-musnad-muttashil artinya mengkaji Al Quran dan Hadis secara langsung seorang atau beberapa orang murid yang menerima dari seorang atau beberapa gurunya tersebut asalnya menerima langsung dari gurunya dan gurunya menerima dari gurunya lagi, sambung bersambung begitu seterusnya tanpa terputus sampai kepada penghimpun Hadis separti Bukhari, Muslim, Nasai, Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Majah dll yang telah menulis isnad-isnad mereka mulai dari beliau-beliau (penghimpun Hadis) sampai kepada Rosululloh SAW. Rosululloh bersambung sehingga Jibril dan Jibril daripada Alloh.
1.4 RO’YI
Ro’yi berasal dari kata ro’aa artinya pandangan, pengelihatan, pendapat, maksudnya adalah belajar atau mengkaji Al Quran dan Hadis sendiri tanpa guru, tidak memiliki isnad muttashil atau berguru dari guru yang tidak berisnad atau membaca buku-buku/ kitab-kitab sendiri kerana merasa bisa menafsir bahasa arab sendiri, di faham-fahami sendiri, di angan-angankan sendiri. Sehingga pengamalannya hanya berdasarkan sangkaan belaka/hawa nafsu.
2. WAJIBNYA MANQUL DAN HARAMNYA RO’YI
Menurut aslinya mengkaji atau mempelajari ilmu Al quran dan Hadis itu harus dengan metode manqul-musnad- muttashil dan muhlis kerana Alloh. Kerana penyampaian ilmu Al Quran dan Al Hadis dengan cara manqul, musnad, muttashil adalah cara yang dipraktikkan oleh Rsululloh SAW, para sahabat, para tabi’in dan ulama-ulama salafusssholihin.
Dari beberapa ayat Al Quran dan Hadis yang telah kita kaji bersama secara manqul kita telah mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas bahwa Alloh menurunkan wahyu kepada Rosululloh SAW dengan sistem manqul yaitu dimanqulkan oleh Malaikat jibril secara teori dan praktikal. Misalnya ketika Rosululloh SAW menerima kemanqulan bacaan Al Quran diperingatkan untuk tidak tergesa-gesa menggerakkan lisan-lisannya mendahului Malaikat Jibril tetapi supaya memperhatikan dahulu setelah Malaikat Jibril selesai membacakan Al Quran, lalu Rosululloh SAW baru disuruh mengikuti bacaan tersebut.
Firman Alloh yang bermaksud: “Kamu jangan menggerakkan lisanmu (untuk mendahului Malaikat Jibril dalam membaca Al Quran) kerana tergesa-gesa dengannya. Sesungguhnya atas kami pengumpulan Al Quran dan bacaannya. Maka ketika selesai kami bacakan Al Quran itu maka ikutilah bacaannya kemudian sungguh ada pada kami keterangan Al Quran itu. (Al Qiyaamah 16-19)
Inilah bukti Rosululloh SAW menerima wahyu secara manqul. Contoh lagi ialah pada waktu Alloh menurunkan wahyu pertama kali yaitu surah Al-Alaq, Malaikat Jibril membacakan lafaz iqro, maka Rosululloh SAW juga menirukan lafaz iqro. Contoh lagi ialah pada waktu Alloh menurunkan wahyu tentang waktunya solat. Malaikat Jibril menunjukkan waktunya solat dengan cara mengajak solat bersama setiap waktu solat selama 2 hari berturut-turut yaitu hari pertama dikerjakan waktu awalnya solat dan hari kedua dikerjakan pada waktu akhirnya solat. Setelah itu Rosululloh SAW dan ummatnya disuruh mengerjakan solat pada waktu yang telah ditentukan antara awal dan akhirnya waktu solat.
Para sahabat dan para tabi’in juga menggunakan ilmu manqul. Sufyan bin Uyainah pernah bercerita : Zuhri (perawi hadis) pada suatu hari meriwayatkan sebuah hadis, maka aku berkata ” Ceritakan padaku tidak usah pakai isnad”. Imam Zuhri menjawab: “Apakah engkau bisa naik loteng tanpa naik tangga?”.
Imam Tsaury berkata: “Isnad itu senjata orang mukmin”
Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Mencari isnad yang luhur itu sunnah orang dahulu kerana sesungguhnya teman-teman Abdullah itu berangkat dari Kufah menuju Madinah, mereka belajar dari Umar dan mendengarkan beliau”. Jadi orang dahulupun mencari ilmu pada orang yang berguru.
Ibnu Mubarak (perawi hadis) berkata di dalam mukadimmah Hadis Riwayat Muslim
“Dari Ahli Marwa berkata, saya mendengar Abdan bin Usman berkata, saya mendengar dari Abdullah bin Mubarak ia berkata “Isnad itu termasuk (bagian dari) agama dan seandainya tidak ada isnad maka orang akan berkata (masalah agama) sesuka hatinya”
Imam Hakim dan lain-lainnya meriwayatkan dari Mathor al Waroq mengenai firman Alloh:
“… datanglah kepadaku dengan kitab sebelum ini atau atsar/labet/isnad dari ilmu jika kamu sekelian orang-orang yang benar” (Surah Al-Ahqaaf :4)
Dia berkata: “Atsarotin adalah isnadul Hadis”
Muhammad bin As Syafie yang menyusun kitab Hadis Musnad Syafie beliau mempelajari kitab Hadis Muwatta’ yang disusun oleh Imam Malik. Beliau hafal di dalam kepala seluruh isi kitab Muwatta’ tersebut dan faham isinya. Mengingatkan wajibnya manqul maka Imam Abu Idris As Syafie memerlukan datang ke Madinah semata-mata untuk menemui Imam Malik dan mengesahkan ilmunya dengan cara manqul langsung, Imam As Syafie membaca kitab Muwatta’ secara hafalan dan Imam Malik diam mendengarkannya.
Di dalam Hadis Bukhari diriwayatkan : Jabir bin Abdillah merantau sejauh perjalanan satu bulan menemui Abdullah bin Unais hanya untuk mendapatkan satu Hadis Sahaja. Ini menunjukkan wajibnya manqul.
Mengkaji Al Quran dan Hadis dengan cara manqul, musnad, muttashil bukan sekadar methode/cara tetapi hukumnya “WAJIB”
“Kamu mendengarkan dan akan didengarkan dan orang yang telah mendengar dari kamu akan didengar pula.” (Riwayat Abu Daud)
“Dari sahabat Jundab ia berkata: Rosululloh SAW telah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan (menerangkan) kitab Alloh yang Maha Mulia dan Maha Agung dengan ro’yu/pendapatnya (secara tidak manqul), walaupun benar maka sungguh ia telah salah” (Riwayat Abu Daud). Sedangkan mengkaji Al Quran dan Hadis tanpa manqul atau Ro’yi dilarang dalam agama Islam dan diancam dimasukkan ke dalam neraka. Berarti hukumnya “HARAM” berdasarkan dalil
“Dari Ibnu Abbas r.a berkata bahwa Rosululloh SAW bersabda “Barang siapa membaca Al Quran tanpa ilmu (tidak sanad/isnad/manqul) maka hendaklah menempati tempat duduknya di Neraka” (Riwayat At Tirmizi)
3. TINGGINYA (KEUTAMAAN) ILMU MANQUL
Dengan demikian praktik dalam menetapi Al Quran Hadis secara jama’ah ini yang kita junjung tinggi ini berdasarkan dalil-dalil haq dalam Al Quran dan Hadis dan secara kenyataannya Alloh memberikan nilai yang tinggi di antaranya.
3.1 ILMU MANQUL MENGESAHKAN AMALAN
Dengan ilmu manqul amal ibadah seseorang menjadi sah, diterima oleh Alloh, diberi pahala oleh Alloh, dimasukkan syurga. Tetapi tanpa manqul atau ro’yi ibadah seseorang tidak sah, tidak diterima oleh Alloh, tidak mendapat pahala bahkan dimasukkan ke dalam Neraka berdasarkan dalil:
Firman Alloh yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mengatakan/mengerjakan pada apa-apa yang tidak ada ilmu bagimu (sanad/isnad/ilmu manqul). Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan ditanya/diurus oleh Alloh (Surah Al Isra’:36)
“Dari sahabat Jundab ia berkata: Rosululloh SAW telah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan(menerangkan) kitab Alloh yang Maha Mulia dan Maha Agung dengan pendapatnya(secara tidak bersanad/isnad/ manqul), walaupun benar maka sungguh ia telah salah” (Riwayat Abu Daud)
Orang yang mangaji Al Quran dan Hadis dengan ro’yi (tidak manqul) sama halnya dengan orang yang menggunakan mata uang asli tetapi dengan cara yang tidak sah. Umpamanya uang itu hasil curian atau separti masuk rumah orang lain tanpa izin pemiliknya atau masuk rumah tidak melalui pintu atau merosakkan pintu.
3.2 ILMU MANQUL MENJAGA KEMURNIAN AGAMA
Kemurnian agama Islam dapat dijaga dengan cara manqul-musnad-muttashil kerana kita mengatakan, mengamalkan Al Quran dan Hadis ada sandarannya/sanadnya/silsilahnya yang sambung-bersambung sampai Rosululloh SAW tanpa berani menambah, mengurangi atau mencampur dengan pendapat sendiri, angan-angan sendiri, menafsirkan sendiri, otak-atik sendiri. Sehingga ilmu Al Quran dan Hadis tetap terjaga kemurniannya. Jika kita berani menambah, mengurangi atau mencampuri Al Quran dan Hadis di luar ilmu yang telah dikaji berdasarkan sanad periwayatan/ kemanqulannya diancam dimasukkan ke dalam Neraka.
Berdasarkan sabda Rosululloh SAW yang bermaksud: “Takutlah kamu pada Hadis dariku kecuali apa-apa yang kamu ketahui. Barang siapa yang dusta atasku dengan sengaja (hadis bukan dari Nabi dikatakan dari Nabi atau dari Nabi dikatakan bukan dari Nabi) maka hendaklah menempati tempat duduknya di Neraka dan barang siapa yang mengatakan tentang Al Quran dengan pendapatnya sendiri (bid’ah, taqlid, takhoyul, syirik, khurofat, dll) maka hendaklah menempati tempat duduknya di Neraka” (Riwayat at Tirmizi)
Terjaganya kemurnian agama Islam dengan cara manqul-musnad-muttashil jauh dari bid’ah, syirik, khurafat, tahyul dan lainnya dapat digambarkan sebagaimana air gunung yang jernih, bersih, sejuk dan terasa segar bagi sesiapa sahaja yang minum di tempat sumbernya (mata airnya). Jika ada orang yang ingin merasakan (minum) air itu jauh dari sumbernya/tempat mata iarnya maka harus melihat kepada saluran apa air datang ke situ.
Kalau saluran itu berupa sungai yang terbuka tidak terjaga maka automatik rasanya akan berubah bahkan bisa menjadi racun kerana banyak orang yang membuang kotoran, toksid, sisa rumah tangga, sisa industri, sampah ke sungai itu, sehingga sungai itu tercemar. Tetapi jika saluran air itu melalui pipa yang baik dan kuat serta terjaga rapi meskipun jauh dari sumbernya. Bahkan walaupun di dalam tandas-tandas sekalipun, air yang keluar daripada pipa akan tetap sama dengan di tempat-tempat lain sama ada di dalam kota atau di kampung-kampung, maka rasa air yang keluar dari paip akan sama segarnya dan sama bersihnya dengan air ditempat sumbernya.
Ilmu digambarkan air, sumber mata air menggambarkan asalnya ilmu yaitu dari Alloh dan Rosululloh SAW. Sedangkan paip yang baik dan kuat digambarkan sebagai isnadnya. Inilah gambarannya!
3.3 ILMU MANQUL MUDAH DIFAHAMI DALAM WAKTU YANG SINGKAT
Dengan sistem manqul ilmu Al Quran dan Hadis akan mudah untuk difahami dalam waktu yang relatif singkat, tidak berpusing-pusing/berbelit-belit sehingga kita segera dapat mengamalkannya dengan benar dan sah. Sebagaimana keterangan-keterangan yang kita terima dari para mubalik, bahwa syaikh Nurhassan Al Ubaidah pada waktu mengaji secara manqul di tanah Hijjaz Mekah Al Mukarramah-Madinah hanya memerlukan waktu 10 tahun sahaja. Alhamdulillah atas kuruniaan Alloh dalam waktu 10 tahun itu beliau dapat menerima kemanqulan Al Quran 30 juz bacaan, makna dan keterangan dengan ilmu alatnya, Qiro’atussab’a (21 macam bacaan) dan dapat menamatkan kitab-kitab hadis yang kesemuanya berjumlah 49 Kitab Hadis, semua itu dengan cara manqul dan beliau benar-benar faham terhadap Al Quran dan Hadis yang diterima secara manqul.
Setelah pulang dari Mekah, beliau terus amar makruf kepada sanak saudara, handai taulan, sahabat-sahabatnya, kenalannya dan siapa sahaja untuk diajak menetapi agama Islam yang haq berdasarkan Al Quran dan Hadis secara berjama’ah. Mereka ada yang bergabung dan ada yang menolak juga ada yang merintangi/menentang tetapi beliau tidak jatuh mental/takut, tetap bersemangat dalam amar makruf dengan bermacam-macam cara, di antaranya beliau selalu mengadakan pengajian khataman/asrama Al Quran dan Hadis secara manqul-musnad-muttashil dan tempat pengajiannya berpindah-pindah. Dalam waktu kurang lebih satu bulan setiap khataman/asrama bisa mengkhatamkan Al Quran 30juz bacaan, makna dan keterangan secara jelas, dan mudah difahami sehingga para peserta khataman pulang dari pengajian merasa puas, senang, gembira dan mantap.
Sampai sekarang kita terus menerus melaksanakan pengajian-pengajian Al Quran dan Hadis dengan sistem manqul-musnad-muttashil sehingga dalam waktu yang relatif singkat dapat memahami Al Quran dan Hadis dengan mudah. Separti pengajian khataman/asrama di pondok-pondok, daerah-daerah pada bulan Ramadhan atau waktu lainya dalam waktu kurang dari satu bulan Al Quran 30juz bacaan, makna, keterangan dapat dikhatamkan atau 12 Kitab himpunan Hadis Nabi dapat dikhatamkan dalam waktu kurang lebih satu bulan. Contoh lagi ialah pengajian Hadis-Hadis Besar separti Sahih Bukhari, Sunan Nasa’I, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmizi dan lainnya dalam waktu kurang lebih 15 hari satu juz dapat dikhatamkan.
Dengan cara manqul pengkajian dan pemahaman terhadap isi Al Quran dan Hadis jadi mudah, jelas, cepat dan tepat kerana ada yang menuntun dan membimbing secara langsung. Sebagai contoh mudah, jelas dan tepatnya dalam menerima Al Quran dan Hadis secara manqul digambarkan separti orang yang disuruh mengambil jarum. Orang yang menyuruh menjelaskan: “Ambilkan jarum, jarumnya berada di dalam almari pakaian yang ada di kamar tidur paling utara, kunci almari ada di atasnya, bukalah almari pakaian itu dan carilah jarum itu pada rak yang paling bawah di situ ada bungkusan kain warna hijau, jadi di situlah letaknya jarum”. Orang yang menerima perintah itu dengan sendirinya akan dengan mudah, cepat dan tepat untuk mengambil jarum yang dimaksudkan.
Sedangkan bagi orang yang tidak manqul digambarkan separti orang yang disuruh mengambil jarum dalam almari tersebut belum sampai dijelaskan/dimanquli dia langsung terus mencari sendiri padahal dalam rumah itu kamarnya banyak almari, pakainnya banyak dan dikunci, maka orang tersebut tidak bisa menemukan jarum yang dimaksudkan, seandainya bisa menemukan, itu hanya suatu kebetulan atau setelah bersusah payah membongkar/menyelongkar seluruh isi rumah.
3.4 ILMU MANQUL MEMPUNYAI KEHEBATAN, WIBAWA, GUNA, JAYA, MULIA
Alloh memberikan “Kehebatan, Wibawa, Guna, Jaya dan Mulia” kepada ilmu manqul. Hanya ilmu Al Quran dan Hadis yang diajar secara manqul-musnad-muttashil yang dapat menumbuhkan keimanan, ketakwaan, kejayaan, kemenangan dan kemuliaan (berupa Syurga).
Kita kembali kepada sejarah perjuangan lampau, Guru/Syaikh Nurhassan Al Ubaidah kita, dalam amar makruf menyampaikan agama Islam yang haq ini dengan berbagai macam cara di antaranya beliau pernah mendatangi atau mengumpulkan beberapa ulama diajak kepada kebenaran kerana yang mereka amalkan selama ini dilihat dari segi AlQoran & AlHadits tidak cocok/sesuai yang sebenarnya, kerana mereka tidak mahu, mereka diajak dialog, jika mereka dapat mengalahkan dengan dasar Al Quran dan Hadis beliau sanggup di perbuat apa sahaja.
Perdebatan yang pernah beliau hadiri salah satunya terjadi pada tahun 1952 bertempat di rumah Ketua Kampung. Perdebatan itu dihadiri oleh lebih kurang 35 orang guru pondok dan umat Islam lebih kurang 1,000 orang dari sekitar kampung. Masalah yang diperdebatkan di antaranya masalah beduk, kentongan, kenduri /doa selamat orang mati, usholi dsb ditinjau dari hukum Islam sebenarnya(ilmu manqul) bahkan mereka disuruh bertanya apa sahaja tentang Islam, semua pertanyaan mereka dijawab berdasarkan Al Quran dan Hadis. Dan mereka tidak dapat menyalahkan jawapan beliau. Hal itu menunjukkan sebahagian contoh bahwa Alloh memberikan “kehebatan, wibawa” dan “jaya”(kemenangan) pada ilmu manqul.
Dengan ilmu secara manqul-musnad-muttashil Alloh memberikan “guna” (manfaat). Dengan cara manqul-musnad-muttashil seseorang akan mempunyai keimanan yang kuat, kukuh, tidak mudah terpengaruh dan imannya separti akar pohon yang kuat dan rimbun daunnya, serta berbuah tanpa mengenal musim. Iman dan takwanya selalu nampak di mana sahaja dan dalam keadaan apa sahaja, separti telah digambarkan oleh Alloh dalam Surah Ibrohim: 24-25
“Apakah kamu belum tahu (Muhammad) bagaimana Alloh membuat gambaran kalimat yang baik(kalimat yang menunjukkan haq, kalimat tauhid, Al Quran), kalimat yang baik separti pohon yang baik, akarnya kuat, daunnya rimbun dan berbuah setiap musim dengan izin Tuhannya. Demikian Alloh membuat gambaran untuk manusia supaya mereka ingat” Sebaliknya orang yang mengkaji Al Quran dan Hadis dengan tidak manqul, musnad, muttashil, tidak dapat memberi “Guna”(manfaat). Meskipun ilmunya banyak, peribadinya tidak dapat mengamalkan, Alloh menggambarkan dalam Surah Ibrahim:26
“Dan gambaran kalimat yang jelek/buruk (kalimat yang batil, kalimat yang sesat) sebagaimana pohon yang tidak kuat, mudah tumbang dari atas bumi”
Kesimpulan
- Kita wajib bersyukur kepada Alloh yang telah memberi hidayah kepada kita semua, sehingga kita redha menerima Agama Islam secara murni, sistem pengambilan ilmu secara murni (manqul-musnad-muttashil) dan pengamalannya juga murni (tidak dicampuri dengan bid’ah Hassanah/dolala (kulu bid’ahtidolala), syirik, khurafat, tahyul, jin-jinan dan lainnya).
- Menurut aslinya mengkaji Al Quran dan Hadis itu harus dengan manqul-musnad-muttashil yaitu cara yang telah dipraktikkan oleh Rosululloh SAW, sahabat, para tabi’in dan ulama-ulama sholihin.
- Mengkaji Al Quran dan Hadis dengan cara manqul-musnad-muttashil hukumnya “WAJIB”, sedangkan dengan cara tanpa manqul/ro’yi dilarang dalam agama, hukumnya “HARAM”.
- Alloh memberikan ilmu manqul-musnad-muttashil adalah ilmu yang tinggi nilainya antaranya:
a. Mengesahkan pengamalan
b. Menjaga kemurnian keaslian Agama Islam
c. Mudah difahami dalam waktu yang relatif singkat
d. Memberikan “HEBAT, WIBAWA,GUNA(manfaat),JAYA” (kemenangan / kejayaan) “MULIA”(dunia akhirat)
e. Mengagungkan terhadap ilmu secara manqul adalah menganggap ilmu secara manqul merupakan ilmu yang paling tinggi (ilmu sejagad). Maka kita harus menganggap ilmu manqul adalah ilmu yang utama, tidak bisa dianggap remeh. Sesuai dengan sabda Rosululloh SAW yang bermaksud: “Barang siapa yang membaca dan memahamai Al Quran (secara Manqul) kemudian ia berpendapat bahwa ada seseorang yang diberi lebih utama daripada yang telah diberikan kepadanya. berarti dia mengagungkan apa-apa yang Allah meremehkan dan meremehkan apa-apa yang Alloh mengagungkan” (Riwayat Al Tabrani dari Tafsir Ibnu Katsir)
f. Mengingat utamanya ilmu secara manqul-musnad-muttashil maka ilmu tersebut harus kita jaga, pertahankan kemurniannya serta kita sebar-luaskan secara terus-menerus, sambung-bersambung, turun-temurun illa yaumil qiyamah.
Allohu’alam…
Mohon maaf bila terdapat kata2 yang tidak sesuai dan menyakiti dan menyinggung perasaan…
Semoga Alloh menyaksikannya sebagai amal ibadah disisiNya… amiiin…
Langganan:
Komentar (Atom)

